Minggu, 24 Januari 2016

Antara Aku, Kamu & Orang Tua Q



Alhamdulillah....
Masa2 OSPEK pun telah usai. Menghapus air mata kesedihan menjadi sebuah pengabdian untuk menata dan menatap hari lebih dewasa. 

Setelah OSPEK selesai, dilanjutkan dengan kegiatan pengembangan diri selama 3 hari bersama motivator handal di Batam, Mbak Melly. Acara yang sangat efektif untuk seorang Mahasiswa baru yang masih mengawali hari baru untuk menapaki jalan baru yang membutuhkan semangat baru untuk mengukir dan mencetak mimpi yang luar biasa. Materi2 yang disajikan juga sangat luar biasa, senada dengan motivator se-kelas Mbak Melly. Materi pengembangan diri, mengenal diri sendiri, mengukir mimpi menjadi nyata hingga muhasabah diri, tentunya.

Lagi-lagi airmata memang menjadi jawaban untuk menata kehidupan. bukan karena ungkapan kecengengan, tapi terkadang airmata memang ungkapan yang membuat kita harus tetap tegar dan mencapai titik fokus. Apalagi ketika dalam sebuah muhasabah yang membuat kita lebih mengenali diri kita, dan dari mana kita menjadi ada hingga untuk siapa kita ada?? Sampai ingin berbuat apa kita yang membuat hidup ini lebih hidup.

Singkat cerita, hari2 selama mengikuti kegiatan pengembangan diri sangat memotivasi diri Q untuk menjadi lebih baik, terutama meneladani diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari untuk dapat mengukir mimpi bersama keluarga TERCINTA dan sosok imam Q nanti ketika Q mampu LULUS tepat waktu dari kampus ini. Subhanallah,,, tingginya mimpi,, tentu angin pasti ada kalanya menerpa bahkan meniup kencang. Bismillah,,, tak pernah surut untuk mengukirnya, terlepas apa pun hasilnya nanti. Tetap BERDIRI, BERPIKIR dan BERBUAT semampu Q, serahkan hasil kepada Sang Maha Penentu Ketetapan. Lagi2 nama Papa dan Bunda yang membuat Q berpikir selangkah lebih maju untuk terus BERKARYA mengukir SENYUM lebih indah di wajah mereka. PERJUANGAN dan MOTIVASI mereka yang sangat luar biasa yang membuat Q berada disini, bertahan dengan tantangan sakit kehidupan. Terima kasih tak ternilai, tak berbatas untuk semua yang takkan berujung cerita untuk tertuliskan.

Begitu indah 2 hari hingga hari terakhir mengikuti kegiatan pengembangan diri. Banyak impian yang terukir, jangka pendek maupun jangka panjang, untuk kedua orang tua Q dan dia orang yang Q tau mencintai Q dan menanti Q disana. Kelak jika semua Q mampu menyelesaikan pendidikan ini, akan Q rangkai menjadi nyata ntuk satukan SENYUM kita.

Namun sayang seribu kali sayang, Harumnya durian tak seindah dan seenak buahnya. Nikmatnya ayam goreng jika tersentuh empedu terasa pahit juga. Begitulah hidup. Segala yang dirancang manis, realitanya tak selamanya senada dengan semanis rancangannya.

Hari terakhir di kegiatan itu, berita duka nan menyayat itu pun menghampiri Q, bahwa dia yang Q tau sangat mencintai Q dan berjanji akan setia menunggu kepulangan Q paska dari selesainya pendidikan Q di Batam nanti ternyata semua yg manis itu meluluhlantakkan hati Q dengan seketika ketika Q bangun dan rancang mimpi indah itu.

Hari terakhir kegiatan itu, tepatnya ketika jam istirahat. Q pun menerima telpon dari dia (Inisial S = Pacar Q). Awalnya senang banget terima telphon dari dia, karena selama masuk kampus mengikuti OSPEK, Q tak pernah menerima kabar apa pun dari dia, SMS juga tidak karena kesibukan yg luar biasa itu, begitu juga Q ke dia. Intinya kami lost communication selama hampir 2 minggu. Hari itu Q bahagia menerima telphon dari dia, bahkan sangat bahagia. Awal pembuka telphon saling menanyakan kabar, dan Q canda gurau dengan nada mesra dan manja, Q sampaikan bahwa Q sangat merindukannya dengan tidak ada kabar selama 2 minggu. Sedikit juga cerita Q sampaikan tentang cerita indah, sakit dan seru selama masuk di kampus ini. Namun kata2 bahagia itu lenyap sesaat terbakar dengan kata singkat yang dia sampaikan "dek, mas besok mau menikah dengan E". WAW!!! Dahsyatnya hati Q saat itu, langsung berlari terima telphon itu ke toilet kampus. Cuma bisa nangis terisak menahan teriakan yg ingin Q teriakkan sejadi2nya. Entah apa jadi perasaan Q kala itu, tidak bisa diungkapkan dengan bahasa apa pun. Intinya Q sakit dan sangat sangat sakit. Perempuan lemah cuma bisa menangis yg bisa Q lakukan kala itu. Q coba kontrol emosi mencoba tegar dan tenang melanjutkan pembicaraan. Singkat cerita kami:

Dia (S)     : "Dek, maafin mas ya, besok mas mau menikah dengan E"
Aku (A)   : "Mas, apa2an ini? kamu yg mengkhawatirkan Q disini, kenapa kamu yang jadi                                     pengkhianat?"

S   : "Ceritanya panjang dek. (sambil dia menceritakan titik permasalahannya)"
A  : "Baiklah mas, silahkan dilanjutkan saja acaranya. adx gak apa2. Ikut bahagia ya mas, semoga           besok acaranya berjalan lancar (kuucapkan dengan menahan tangis dan kulantangkan dengan           ketegaran dan ketenangan dengan bungkus KEBOHONGAN)"
S   : "dek, mas sayang sama adek, jika adek mau mas kabur, mas akan jemput adek kesana." (Dalam           hati berusik, "aku tuh emng cinta sama mas, tapi bukan caraku mewujudkan cinta dengan                   begitu, maaf, silahkan berlalu," sok2 tegar, hahahha... :D)
A  : Q sampaikan dengan sebuah kata cinta "mas, bahwa adek juga sayang sama mas, tapi bukan               begitu kita egois dengan perasaan kita. Adek tau, pacar adek adalah orang yang bertanggung            jawab, jadi bertanggung jawablah dengan urusan yang sudah ada di depan mata. Biar cinta kita         waktu aja yang menjawab"
S   : "Beneran adek gak apa2 kan? Itu semua ucapan lahir dari hati adek kan?" (Dia kembali                       menegaskan keputusan ucapan Q)
A  : "Ya mas. adek gak apa2 koq. Belajar mengikhlaskan sesuatu yang bukan dirancang untuk kita.           Selamat menempuh hidup baru ya mas, semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah                 Warahmah (Dengan nada ikhlas Q sampaikan do'a itu). Besok jangan sampe salah sebut nama           ya, ingat bukan Ferri Martin binti . . ., tapi E Binti . . . hehehe (Q tenangkan hati kami masing2           dengan sedikit candaan klasik itu)"
S   : "Makasih ya dek. Maafin mas, semoga adek sukses disana dan mendapatkan orang yang lebih             baik dari mas, Amin..." (Mengakhiri pembicaraan dengan sebait kata menguatkan Q).
A  : "Amin. Makasih mas. Do'a yang sama untukmu. Assalammu'alaikum..." (Menutup telphon                   dengan irama saling memberi kekuatan)

Itulah obrolan singkat namun menyakitkan di hari ketika semangat dan impian Q baru terukir. Namun, apalah daya, menahan sakit sendiri mungkin jauh lebih baik daripada menyakiti hati orang lain, pikir Q. Semua memang menyakitkan dan berasa mimpi. Karena, dia yang meragukan aku ketika awal dulu aku memilih untuk melangkah ke Batam.

Semua berawal dari . . .

Q memang seorang gadis desa yang jauh dari gaya ngetrend gadis kota, tapi mimpiku menatap masa depan sangat tinggi, bahkan orangtuaku saja tidak percaya Q punya mimpi sebegitu besar, sampai2 mereka khawatir Q kecewa karena mereka takut tidak sanggup mendampingi mimpi Q itu.

Q memang cukup lama pacaran dengan S. Kami resmi pacaran 10-11-2003 (10 November 2003). Waktu itu Q masih duduk di kelas 2 SMP. Masih cukup kanak-kanak memang untuk kenal pacaran, tapi Q serius untuk menjalani pacaran bukan hanya sebatas Cinta Monyet. Tapi, walaupun begitu Q tidak pernah berpikiran untuk menikah muda. Mimpi Besar seorang Gadis Desa ada padaku.

Seiring waktu berjalan, hubungan Q diketahui oleh orang tua Q dan orang tua angkatnya (S adalah seorang Yatim Piatu dari kecil dan di rawat seorang yang Q panggil Kakek dan Nenek = Orang tua angkat S). Orang tua Q sempat kurang setuju mengetahui Q punya hubungan dengannya karena silsilah kelakuan keluarganya kurang baik menurut orang tua Q. Tapi, kalau orang tuanya sangat suka dan sayang pada Q. Walaupun orang tua Q tidak setuju, yang penting Q tidak pernah backstreet dari mereka tentang hubungan Q dan orang tua Q tetap memantau pergaulan Q dan tidak terlalu menghalangi. Gaya pacaran kami pun berbeda dari kebanyakan teman Q di kampung. Setiap ngapel, dia selalu datang ke rumah minta ajarin ngaji. Jadi, kalau dia ngapel, ya pasti orang tua Q tau. Asal diajak jalan keluar Q jarang mau. Ya udah,, kami selalu nongkrong depan rumah bersama teman2 dekat Q.

Suatu hari hubungan Q hampir berjalan 2 tahun, dan ketika Q tamat SMP, orang tuanya menyuruh melamar Q. Q pun terkejut. Q memang sayang dan serius dengannya, tapi tidak mau menikah secepat ini. Usia Q masih terlalu muda untuk membina rumah tangga, dan Q yakin orang tua Q juga pasti tidak akan mengizinkan hal ini. Namun, Q sampaikan ke orang tua angkatnya, bahwa Q masih ingin melanjutkan sekolah ke tingkat SMA, nanti kalau Q lulus SMA, Insya Allah Q udah siap.

Hubungan kami pun terus berjalan. Masalah juga tidak sepi dari hubungan kami. Sempat juga putus nyambung. Sampai di akhir SMA Q, orang tuanya lagi2 menagi janji Q bahwa Q siap dilamar. Tapi, lagi2 Q berdalih masih ingin melanjutkan pendidikan untuk kuliah, jadi Q masih menolak dengan lembut untuk dilamar.

Tapi,,,,

Ketika masa akhir SMA hampir selesai, Q punya mimpi untuk kuliah ke luar kota dari Sumatera Utara. Rencananya kalau tidak di ITB Bandung mungkin di UGM Yogyakarta. Tapi, apalah daya, kala itu perekonomian keluarga sedang goncang. Awal ku sampaikan niat itu ke keluarga, papa menyampaikan "silahkan dipikirkan lagi niat untuk melanjutkan sekolahnya ke luar kota. Kamu perempuan dan kita memang punya keluarga disana cuma nggak tau dimananya, dengan arti kamu sendiri nanti disana, tidak ada yang memantau atau mengingatkan kamu. Daripada sekolah jauh2 dan nanti malah tidak bener karena itu kota besar, ya lebih baik yang dekat2 sini aja". Ya,, papa menyampaikan seperti itu, tapi tetap aja bahwa niat ku adalah untuk belajar, Insya Allah akan aku berikan yang terbaik untuk keluargaku. Bahkan pacarku (kala itu) juga tidak mengijinkan aku untuk sekolah di luar kota. Intinya aku tidak boleh jauh dari pengawasannya juga. Selang waktu, ternyata rencana Allah juga lain, ujian menimpa keluargaku, dan papa menyampaikan bahwa kalau aku tidak bisa melanjutkan kuliah tahun itu juga. Drastis menyedihkan untuk aku, karena ketika mimpi segitu besar udah terukir, papa mematahkan semangat aku begitu saja. Aku yang memang tipikal orang yang keras kepala, menyampaikan ke papa bahwasannya aku pasti bisa kuliah tahun ini juga. Bagaimanapun caranya Q akan memikirkan bagaimana bisa tetap melanjutkan kuliah tahun ini. (dengan nada sedih dan keras kepala Q menyampaikan itu kepada Papa Q).

Seiring waktu berjalan, Allah punya rencana yang lebih baik atas musibah perekonomian keluarga Q. Dari Perusahaan Papa yang lama buka cabang di Batam, dan Papa diminta untuk membantu mengelola pekerjaan disana (karena Papa karyawan terlama dan Insya Allah terpercaya selama bergabung dengan perusahaan tersebut). Akhirnya Papa pun memutuskan untuk hijrah ke Kota Madani itu, Kota Batam. Dan beberapa bulan kemudian, penantian kelulusan Q pun akan tiba. Dan Pimpinan Papa menanyakan keberadaan tentang kelanjutan sekolah Q, dan beliau pun menyarankan agar Q bisa melanjutkan sekolah di Batam saja, biar sekalian bantu2 Papa disana.

Kala Papa menerima saran seperti itu dari Pimpinannya, Q juga sedang bingung memutuskan ingin kemana melanjutkan sekolah Q. Di penghujung Kegiatan Belajar Mengajar, sebelum Q menghadapi Ujian Nasional, sempat terjadi diskusi antara Q dengan kedua orang tua Q. Waktu itu Papa memang sudah di Batam, tapi Papa belum menerima saran dari Pimpinannya. Q menyampaikan ke Papa, bahwa Q ingin kuliah di salah satu Universitas Negeri di Medan saja, Q ingin mengambil Fakultas Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan jurusan Ilmu Eksak. Waktu itu Q jelaskan ke Papa, Q mau mengikuti  tes SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru). Kebetulan Wali Kelas waktu itu lulusan kampus tersebut, jadi Q bisa menerima sedikit banyak informasi dari beliau. Akhirnya, Papa pun menyampaikan kepada Q, "terserah kamu saja nak, pilihlah mana yang terbaik untuk kamu. Papa mendukung semua kegiatan positif kamu untuk mencapai cita-citamu". Dari  nasihat Papa tersebut, Q pun mulai mencari informasi dari Wali Kelas Q, dan saran dari Wali Kelas Q harus mulai mencari tempat BimBel untuk mempersiapkan menghadapi tes SPMB di kampus tersebut. Ketika Q meminta izin ke Papa untuk mencari tempat BimBel, Papa menyampaikan saran dari atsannya untuk Q melanjutkan sekolah ke Batam saja. Tanpa pikir panjang, Q pun mengikuti saran Papa saja, karena Q tau bagaimana perjuangan Papa untuk Q bisa melanjutkan sekolah. Bahkan ketika hal tersebut Q sampaikan ke pacar Q, dia sangat berat memberikan izin kepada Q untuk Q sekolah ke Batam. Bahkab dia membujuk Q untuk tidak menerima tawaran kuliah ke Batan dengan memo "bahwa dia akan memfasilitasi kuliah Q di Medan. Menanggung biaya kuliah dan memberikan kendaraan untuk fasilitas berangkat kuliah". Q tidak begitu menghiraukan tawaran darinya, karena menurut Q memang fasilitas yang ditawarkan orang tua Q tidak selengkap tawaran fasilitas dari pacar Q, tapi Q tau perjuangan Papa jauh lebih besar dan hebat untuk bisa melihat Q melanjutkan kuliah. Tawaran dari pacar Q, Q hanya sampaikan "simpan saja semua biaya untuk memberikan fasilitas itu untuk mengukir masa depan kita. Insya Allah Q akan lulus tepat waktu, mohon doanya aja. 3 tahun Q kuliah, setelah wisuda Q siap memenuhi keinginan kakek dan nenek (orang tua angkatnya untuk melamar Q)" Q tau dia begitu berat menerima keputusan Q, tapi Q menyampaikan dengan penuh keyakinan bahwa Q akan menjaga semuanya dengan baik. Dan akhirnya dia pun menerimaa keputusan Q.

Q yang tidak tau latar belakang Kota Batam, bahkan kampus yang Q tuju, sampai suatu hari Papa mengirimkan brosur dan formulir pendaftaran dari salah satu kampus yang ada di Kota Batam. Brosur dan formulir itu dititipkan dengan atasan Papa yang lagi pulang ke Medan, dan Q disuruh segera melengkapi formulir itu dan syarat2nya, karena berkas2 itu akan dibawa kembali oleh atasan Papa, sementara atasan Papa tidak sampai seminggu ada di Medan.

Brosur dan formulir tersebut pun sudah Q terima, dan Q pun mulai mengisinya. Tidak kenal dengan latar belakang kampus itu, tidak menjadi masalah lah buat Q, ntar kalau udah nyampe di Batam kan bisa kenalan. hehehhe,,, Sejauh ini Q cukup kenal dengan namanya saja "Politeknik Batam"
Setiba Q melihat jurusan yang ada di kampus itu, hanya ada 3 jurusan yaitu Akuntansi -- Teknik Informatika -- Teknik Elektronika. Sontak saja Q bingung memilih jurusannya. Sama sekali tidak ada jurusan yang Q inginkan. Yang Q pikirkan adalah Akuntansi (Q bukan dari jurusan IPS, melainkan IPA), sedangkan Teknik Elektronika (dipikiran Q pasti kelasnya rata2 kaum Adam semua) dan Teknik Informatika (memang sih Q juga suka dengan dunia komputerisasi, tapi Q hanya ingin belajar otodidak aja). Setelah Q diskusikan dengan Papa Q, kata Papa ya udah ambil Teknik Informatika aja. Ya sudahlah, mau tidak mau, Q coba ambil jurusan Teknik Informatika. Setelah semua berkas Q rasa lengkap, Q serahkan ke atasan Papa lagi, dan Q kabarkan ke Papa kalau semua berkas2nya udah Q serahkan ke atasannya. Ya,, nanti kalau udah diserahkan ke kampusnya, tunggu aja kabar dari kampus untuk pelaksanaan ujiannya.

Waiting Information from There , , , > > >

3 komentar:

  1. Blm sempat bc dek. Hehe
    Tulisannya puanjang dan lebar..
    Setelah nnti mas bc,mas akan koment dek.. Hehe..

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah akhiry bs bc smpai slesai dek.
    Sedih, suka duka dlm hidup psti ada.
    Kisah yg menginspirasi dek.
    Keteguhan dlm meraih ilmu & cita2 yg sgt tinggi.
    Salut buat adek..
    Teruslah berkarya utk menginspirasi org lain dek..
    Mas akan tunggu karya adek yg lain.
    Sukses buat adek

    BalasHapus
  3. hehehhe,,,

    Makasih ya mas,,,
    Nantikan kelanjutan ceritanya y mas,,

    Tetap semangat berkarya jg buat km mas,,,

    BalasHapus