Ve@Penuh Cinta
Minggu, 24 Januari 2016
Ve@Penuh Cinta: Antara Aku, Kamu & Orang Tua Q
Ve@Penuh Cinta: Antara Aku, Kamu & Orang Tua Q: Alhamdulillah .... Masa2 OSPEK pun telah usai. Menghapus air mata kesedihan menjadi sebuah pengabdian untuk menata dan menatap hari le...
Antara Aku, Kamu & Orang Tua Q
Alhamdulillah....
Masa2 OSPEK pun telah usai. Menghapus air mata kesedihan menjadi sebuah pengabdian untuk menata dan menatap hari lebih dewasa.
Setelah OSPEK selesai, dilanjutkan dengan kegiatan pengembangan diri selama 3 hari bersama motivator handal di Batam, Mbak Melly. Acara yang sangat efektif untuk seorang Mahasiswa baru yang masih mengawali hari baru untuk menapaki jalan baru yang membutuhkan semangat baru untuk mengukir dan mencetak mimpi yang luar biasa. Materi2 yang disajikan juga sangat luar biasa, senada dengan motivator se-kelas Mbak Melly. Materi pengembangan diri, mengenal diri sendiri, mengukir mimpi menjadi nyata hingga muhasabah diri, tentunya.
Lagi-lagi airmata memang menjadi jawaban untuk menata kehidupan. bukan karena ungkapan kecengengan, tapi terkadang airmata memang ungkapan yang membuat kita harus tetap tegar dan mencapai titik fokus. Apalagi ketika dalam sebuah muhasabah yang membuat kita lebih mengenali diri kita, dan dari mana kita menjadi ada hingga untuk siapa kita ada?? Sampai ingin berbuat apa kita yang membuat hidup ini lebih hidup.
Singkat cerita, hari2 selama mengikuti kegiatan pengembangan diri sangat memotivasi diri Q untuk menjadi lebih baik, terutama meneladani diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari untuk dapat mengukir mimpi bersama keluarga TERCINTA dan sosok imam Q nanti ketika Q mampu LULUS tepat waktu dari kampus ini. Subhanallah,,, tingginya mimpi,, tentu angin pasti ada kalanya menerpa bahkan meniup kencang. Bismillah,,, tak pernah surut untuk mengukirnya, terlepas apa pun hasilnya nanti. Tetap BERDIRI, BERPIKIR dan BERBUAT semampu Q, serahkan hasil kepada Sang Maha Penentu Ketetapan. Lagi2 nama Papa dan Bunda yang membuat Q berpikir selangkah lebih maju untuk terus BERKARYA mengukir SENYUM lebih indah di wajah mereka. PERJUANGAN dan MOTIVASI mereka yang sangat luar biasa yang membuat Q berada disini, bertahan dengan tantangan sakit kehidupan. Terima kasih tak ternilai, tak berbatas untuk semua yang takkan berujung cerita untuk tertuliskan.
Begitu indah 2 hari hingga hari terakhir mengikuti kegiatan pengembangan diri. Banyak impian yang terukir, jangka pendek maupun jangka panjang, untuk kedua orang tua Q dan dia orang yang Q tau mencintai Q dan menanti Q disana. Kelak jika semua Q mampu menyelesaikan pendidikan ini, akan Q rangkai menjadi nyata ntuk satukan SENYUM kita.
Namun sayang seribu kali sayang, Harumnya durian tak seindah dan seenak buahnya. Nikmatnya ayam goreng jika tersentuh empedu terasa pahit juga. Begitulah hidup. Segala yang dirancang manis, realitanya tak selamanya senada dengan semanis rancangannya.
Hari terakhir di kegiatan itu, berita duka nan menyayat itu pun menghampiri Q, bahwa dia yang Q tau sangat mencintai Q dan berjanji akan setia menunggu kepulangan Q paska dari selesainya pendidikan Q di Batam nanti ternyata semua yg manis itu meluluhlantakkan hati Q dengan seketika ketika Q bangun dan rancang mimpi indah itu.
Hari terakhir kegiatan itu, tepatnya ketika jam istirahat. Q pun menerima telpon dari dia (Inisial S = Pacar Q). Awalnya senang banget terima telphon dari dia, karena selama masuk kampus mengikuti OSPEK, Q tak pernah menerima kabar apa pun dari dia, SMS juga tidak karena kesibukan yg luar biasa itu, begitu juga Q ke dia. Intinya kami lost communication selama hampir 2 minggu. Hari itu Q bahagia menerima telphon dari dia, bahkan sangat bahagia. Awal pembuka telphon saling menanyakan kabar, dan Q canda gurau dengan nada mesra dan manja, Q sampaikan bahwa Q sangat merindukannya dengan tidak ada kabar selama 2 minggu. Sedikit juga cerita Q sampaikan tentang cerita indah, sakit dan seru selama masuk di kampus ini. Namun kata2 bahagia itu lenyap sesaat terbakar dengan kata singkat yang dia sampaikan "dek, mas besok mau menikah dengan E". WAW!!! Dahsyatnya hati Q saat itu, langsung berlari terima telphon itu ke toilet kampus. Cuma bisa nangis terisak menahan teriakan yg ingin Q teriakkan sejadi2nya. Entah apa jadi perasaan Q kala itu, tidak bisa diungkapkan dengan bahasa apa pun. Intinya Q sakit dan sangat sangat sakit. Perempuan lemah cuma bisa menangis yg bisa Q lakukan kala itu. Q coba kontrol emosi mencoba tegar dan tenang melanjutkan pembicaraan. Singkat cerita kami:
Dia (S) : "Dek, maafin mas ya, besok mas mau menikah dengan E"
Aku (A) : "Mas, apa2an ini? kamu yg mengkhawatirkan Q disini, kenapa kamu yang jadi pengkhianat?"
S : "Ceritanya panjang dek. (sambil dia menceritakan titik permasalahannya)"
A : "Baiklah mas, silahkan dilanjutkan saja acaranya. adx gak apa2. Ikut bahagia ya mas, semoga besok acaranya berjalan lancar (kuucapkan dengan menahan tangis dan kulantangkan dengan ketegaran dan ketenangan dengan bungkus KEBOHONGAN)"
S : "dek, mas sayang sama adek, jika adek mau mas kabur, mas akan jemput adek kesana." (Dalam hati berusik, "aku tuh emng cinta sama mas, tapi bukan caraku mewujudkan cinta dengan begitu, maaf, silahkan berlalu," sok2 tegar, hahahha... :D)
A : Q sampaikan dengan sebuah kata cinta "mas, bahwa adek juga sayang sama mas, tapi bukan begitu kita egois dengan perasaan kita. Adek tau, pacar adek adalah orang yang bertanggung jawab, jadi bertanggung jawablah dengan urusan yang sudah ada di depan mata. Biar cinta kita waktu aja yang menjawab"
S : "Beneran adek gak apa2 kan? Itu semua ucapan lahir dari hati adek kan?" (Dia kembali menegaskan keputusan ucapan Q)
A : "Ya mas. adek gak apa2 koq. Belajar mengikhlaskan sesuatu yang bukan dirancang untuk kita. Selamat menempuh hidup baru ya mas, semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Warahmah (Dengan nada ikhlas Q sampaikan do'a itu). Besok jangan sampe salah sebut nama ya, ingat bukan Ferri Martin binti . . ., tapi E Binti . . . hehehe (Q tenangkan hati kami masing2 dengan sedikit candaan klasik itu)"
S : "Makasih ya dek. Maafin mas, semoga adek sukses disana dan mendapatkan orang yang lebih baik dari mas, Amin..." (Mengakhiri pembicaraan dengan sebait kata menguatkan Q).
A : "Amin. Makasih mas. Do'a yang sama untukmu. Assalammu'alaikum..." (Menutup telphon dengan irama saling memberi kekuatan)
Itulah obrolan singkat namun menyakitkan di hari ketika semangat dan impian Q baru terukir. Namun, apalah daya, menahan sakit sendiri mungkin jauh lebih baik daripada menyakiti hati orang lain, pikir Q. Semua memang menyakitkan dan berasa mimpi. Karena, dia yang meragukan aku ketika awal dulu aku memilih untuk melangkah ke Batam.
Semua berawal dari . . .
Q memang seorang gadis desa yang jauh dari gaya ngetrend gadis kota, tapi mimpiku menatap masa depan sangat tinggi, bahkan orangtuaku saja tidak percaya Q punya mimpi sebegitu besar, sampai2 mereka khawatir Q kecewa karena mereka takut tidak sanggup mendampingi mimpi Q itu.
Q memang cukup lama pacaran dengan S. Kami resmi pacaran 10-11-2003 (10 November 2003). Waktu itu Q masih duduk di kelas 2 SMP. Masih cukup kanak-kanak memang untuk kenal pacaran, tapi Q serius untuk menjalani pacaran bukan hanya sebatas Cinta Monyet. Tapi, walaupun begitu Q tidak pernah berpikiran untuk menikah muda. Mimpi Besar seorang Gadis Desa ada padaku.
Seiring waktu berjalan, hubungan Q diketahui oleh orang tua Q dan orang tua angkatnya (S adalah seorang Yatim Piatu dari kecil dan di rawat seorang yang Q panggil Kakek dan Nenek = Orang tua angkat S). Orang tua Q sempat kurang setuju mengetahui Q punya hubungan dengannya karena silsilah kelakuan keluarganya kurang baik menurut orang tua Q. Tapi, kalau orang tuanya sangat suka dan sayang pada Q. Walaupun orang tua Q tidak setuju, yang penting Q tidak pernah backstreet dari mereka tentang hubungan Q dan orang tua Q tetap memantau pergaulan Q dan tidak terlalu menghalangi. Gaya pacaran kami pun berbeda dari kebanyakan teman Q di kampung. Setiap ngapel, dia selalu datang ke rumah minta ajarin ngaji. Jadi, kalau dia ngapel, ya pasti orang tua Q tau. Asal diajak jalan keluar Q jarang mau. Ya udah,, kami selalu nongkrong depan rumah bersama teman2 dekat Q.
Suatu hari hubungan Q hampir berjalan 2 tahun, dan ketika Q tamat SMP, orang tuanya menyuruh melamar Q. Q pun terkejut. Q memang sayang dan serius dengannya, tapi tidak mau menikah secepat ini. Usia Q masih terlalu muda untuk membina rumah tangga, dan Q yakin orang tua Q juga pasti tidak akan mengizinkan hal ini. Namun, Q sampaikan ke orang tua angkatnya, bahwa Q masih ingin melanjutkan sekolah ke tingkat SMA, nanti kalau Q lulus SMA, Insya Allah Q udah siap.
Hubungan kami pun terus berjalan. Masalah juga tidak sepi dari hubungan kami. Sempat juga putus nyambung. Sampai di akhir SMA Q, orang tuanya lagi2 menagi janji Q bahwa Q siap dilamar. Tapi, lagi2 Q berdalih masih ingin melanjutkan pendidikan untuk kuliah, jadi Q masih menolak dengan lembut untuk dilamar.
Tapi,,,,
Ketika masa akhir SMA hampir selesai, Q punya mimpi untuk kuliah ke luar kota dari Sumatera Utara. Rencananya kalau tidak di ITB Bandung mungkin di UGM Yogyakarta. Tapi, apalah daya, kala itu perekonomian keluarga sedang goncang. Awal ku sampaikan niat itu ke keluarga, papa menyampaikan "silahkan dipikirkan lagi niat untuk melanjutkan sekolahnya ke luar kota. Kamu perempuan dan kita memang punya keluarga disana cuma nggak tau dimananya, dengan arti kamu sendiri nanti disana, tidak ada yang memantau atau mengingatkan kamu. Daripada sekolah jauh2 dan nanti malah tidak bener karena itu kota besar, ya lebih baik yang dekat2 sini aja". Ya,, papa menyampaikan seperti itu, tapi tetap aja bahwa niat ku adalah untuk belajar, Insya Allah akan aku berikan yang terbaik untuk keluargaku. Bahkan pacarku (kala itu) juga tidak mengijinkan aku untuk sekolah di luar kota. Intinya aku tidak boleh jauh dari pengawasannya juga. Selang waktu, ternyata rencana Allah juga lain, ujian menimpa keluargaku, dan papa menyampaikan bahwa kalau aku tidak bisa melanjutkan kuliah tahun itu juga. Drastis menyedihkan untuk aku, karena ketika mimpi segitu besar udah terukir, papa mematahkan semangat aku begitu saja. Aku yang memang tipikal orang yang keras kepala, menyampaikan ke papa bahwasannya aku pasti bisa kuliah tahun ini juga. Bagaimanapun caranya Q akan memikirkan bagaimana bisa tetap melanjutkan kuliah tahun ini. (dengan nada sedih dan keras kepala Q menyampaikan itu kepada Papa Q).
Seiring waktu berjalan, Allah punya rencana yang lebih baik atas musibah perekonomian keluarga Q. Dari Perusahaan Papa yang lama buka cabang di Batam, dan Papa diminta untuk membantu mengelola pekerjaan disana (karena Papa karyawan terlama dan Insya Allah terpercaya selama bergabung dengan perusahaan tersebut). Akhirnya Papa pun memutuskan untuk hijrah ke Kota Madani itu, Kota Batam. Dan beberapa bulan kemudian, penantian kelulusan Q pun akan tiba. Dan Pimpinan Papa menanyakan keberadaan tentang kelanjutan sekolah Q, dan beliau pun menyarankan agar Q bisa melanjutkan sekolah di Batam saja, biar sekalian bantu2 Papa disana.
Kala Papa menerima saran seperti itu dari Pimpinannya, Q juga sedang bingung memutuskan ingin kemana melanjutkan sekolah Q. Di penghujung Kegiatan Belajar Mengajar, sebelum Q menghadapi Ujian Nasional, sempat terjadi diskusi antara Q dengan kedua orang tua Q. Waktu itu Papa memang sudah di Batam, tapi Papa belum menerima saran dari Pimpinannya. Q menyampaikan ke Papa, bahwa Q ingin kuliah di salah satu Universitas Negeri di Medan saja, Q ingin mengambil Fakultas Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan jurusan Ilmu Eksak. Waktu itu Q jelaskan ke Papa, Q mau mengikuti tes SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru). Kebetulan Wali Kelas waktu itu lulusan kampus tersebut, jadi Q bisa menerima sedikit banyak informasi dari beliau. Akhirnya, Papa pun menyampaikan kepada Q, "terserah kamu saja nak, pilihlah mana yang terbaik untuk kamu. Papa mendukung semua kegiatan positif kamu untuk mencapai cita-citamu". Dari nasihat Papa tersebut, Q pun mulai mencari informasi dari Wali Kelas Q, dan saran dari Wali Kelas Q harus mulai mencari tempat BimBel untuk mempersiapkan menghadapi tes SPMB di kampus tersebut. Ketika Q meminta izin ke Papa untuk mencari tempat BimBel, Papa menyampaikan saran dari atsannya untuk Q melanjutkan sekolah ke Batam saja. Tanpa pikir panjang, Q pun mengikuti saran Papa saja, karena Q tau bagaimana perjuangan Papa untuk Q bisa melanjutkan sekolah. Bahkan ketika hal tersebut Q sampaikan ke pacar Q, dia sangat berat memberikan izin kepada Q untuk Q sekolah ke Batam. Bahkab dia membujuk Q untuk tidak menerima tawaran kuliah ke Batan dengan memo "bahwa dia akan memfasilitasi kuliah Q di Medan. Menanggung biaya kuliah dan memberikan kendaraan untuk fasilitas berangkat kuliah". Q tidak begitu menghiraukan tawaran darinya, karena menurut Q memang fasilitas yang ditawarkan orang tua Q tidak selengkap tawaran fasilitas dari pacar Q, tapi Q tau perjuangan Papa jauh lebih besar dan hebat untuk bisa melihat Q melanjutkan kuliah. Tawaran dari pacar Q, Q hanya sampaikan "simpan saja semua biaya untuk memberikan fasilitas itu untuk mengukir masa depan kita. Insya Allah Q akan lulus tepat waktu, mohon doanya aja. 3 tahun Q kuliah, setelah wisuda Q siap memenuhi keinginan kakek dan nenek (orang tua angkatnya untuk melamar Q)" Q tau dia begitu berat menerima keputusan Q, tapi Q menyampaikan dengan penuh keyakinan bahwa Q akan menjaga semuanya dengan baik. Dan akhirnya dia pun menerimaa keputusan Q.
Q yang tidak tau latar belakang Kota Batam, bahkan kampus yang Q tuju, sampai suatu hari Papa mengirimkan brosur dan formulir pendaftaran dari salah satu kampus yang ada di Kota Batam. Brosur dan formulir itu dititipkan dengan atasan Papa yang lagi pulang ke Medan, dan Q disuruh segera melengkapi formulir itu dan syarat2nya, karena berkas2 itu akan dibawa kembali oleh atasan Papa, sementara atasan Papa tidak sampai seminggu ada di Medan.
Brosur dan formulir tersebut pun sudah Q terima, dan Q pun mulai mengisinya. Tidak kenal dengan latar belakang kampus itu, tidak menjadi masalah lah buat Q, ntar kalau udah nyampe di Batam kan bisa kenalan. hehehhe,,, Sejauh ini Q cukup kenal dengan namanya saja "Politeknik Batam"
Setiba Q melihat jurusan yang ada di kampus itu, hanya ada 3 jurusan yaitu Akuntansi -- Teknik Informatika -- Teknik Elektronika. Sontak saja Q bingung memilih jurusannya. Sama sekali tidak ada jurusan yang Q inginkan. Yang Q pikirkan adalah Akuntansi (Q bukan dari jurusan IPS, melainkan IPA), sedangkan Teknik Elektronika (dipikiran Q pasti kelasnya rata2 kaum Adam semua) dan Teknik Informatika (memang sih Q juga suka dengan dunia komputerisasi, tapi Q hanya ingin belajar otodidak aja). Setelah Q diskusikan dengan Papa Q, kata Papa ya udah ambil Teknik Informatika aja. Ya sudahlah, mau tidak mau, Q coba ambil jurusan Teknik Informatika. Setelah semua berkas Q rasa lengkap, Q serahkan ke atasan Papa lagi, dan Q kabarkan ke Papa kalau semua berkas2nya udah Q serahkan ke atasannya. Ya,, nanti kalau udah diserahkan ke kampusnya, tunggu aja kabar dari kampus untuk pelaksanaan ujiannya.
Waiting Information from There , , , > > >
Namun sayang seribu kali sayang, Harumnya durian tak seindah dan seenak buahnya. Nikmatnya ayam goreng jika tersentuh empedu terasa pahit juga. Begitulah hidup. Segala yang dirancang manis, realitanya tak selamanya senada dengan semanis rancangannya.
Hari terakhir di kegiatan itu, berita duka nan menyayat itu pun menghampiri Q, bahwa dia yang Q tau sangat mencintai Q dan berjanji akan setia menunggu kepulangan Q paska dari selesainya pendidikan Q di Batam nanti ternyata semua yg manis itu meluluhlantakkan hati Q dengan seketika ketika Q bangun dan rancang mimpi indah itu.
Hari terakhir kegiatan itu, tepatnya ketika jam istirahat. Q pun menerima telpon dari dia (Inisial S = Pacar Q). Awalnya senang banget terima telphon dari dia, karena selama masuk kampus mengikuti OSPEK, Q tak pernah menerima kabar apa pun dari dia, SMS juga tidak karena kesibukan yg luar biasa itu, begitu juga Q ke dia. Intinya kami lost communication selama hampir 2 minggu. Hari itu Q bahagia menerima telphon dari dia, bahkan sangat bahagia. Awal pembuka telphon saling menanyakan kabar, dan Q canda gurau dengan nada mesra dan manja, Q sampaikan bahwa Q sangat merindukannya dengan tidak ada kabar selama 2 minggu. Sedikit juga cerita Q sampaikan tentang cerita indah, sakit dan seru selama masuk di kampus ini. Namun kata2 bahagia itu lenyap sesaat terbakar dengan kata singkat yang dia sampaikan "dek, mas besok mau menikah dengan E". WAW!!! Dahsyatnya hati Q saat itu, langsung berlari terima telphon itu ke toilet kampus. Cuma bisa nangis terisak menahan teriakan yg ingin Q teriakkan sejadi2nya. Entah apa jadi perasaan Q kala itu, tidak bisa diungkapkan dengan bahasa apa pun. Intinya Q sakit dan sangat sangat sakit. Perempuan lemah cuma bisa menangis yg bisa Q lakukan kala itu. Q coba kontrol emosi mencoba tegar dan tenang melanjutkan pembicaraan. Singkat cerita kami:
Dia (S) : "Dek, maafin mas ya, besok mas mau menikah dengan E"
Aku (A) : "Mas, apa2an ini? kamu yg mengkhawatirkan Q disini, kenapa kamu yang jadi pengkhianat?"
S : "Ceritanya panjang dek. (sambil dia menceritakan titik permasalahannya)"
A : "Baiklah mas, silahkan dilanjutkan saja acaranya. adx gak apa2. Ikut bahagia ya mas, semoga besok acaranya berjalan lancar (kuucapkan dengan menahan tangis dan kulantangkan dengan ketegaran dan ketenangan dengan bungkus KEBOHONGAN)"
S : "dek, mas sayang sama adek, jika adek mau mas kabur, mas akan jemput adek kesana." (Dalam hati berusik, "aku tuh emng cinta sama mas, tapi bukan caraku mewujudkan cinta dengan begitu, maaf, silahkan berlalu," sok2 tegar, hahahha... :D)
A : Q sampaikan dengan sebuah kata cinta "mas, bahwa adek juga sayang sama mas, tapi bukan begitu kita egois dengan perasaan kita. Adek tau, pacar adek adalah orang yang bertanggung jawab, jadi bertanggung jawablah dengan urusan yang sudah ada di depan mata. Biar cinta kita waktu aja yang menjawab"
S : "Beneran adek gak apa2 kan? Itu semua ucapan lahir dari hati adek kan?" (Dia kembali menegaskan keputusan ucapan Q)
A : "Ya mas. adek gak apa2 koq. Belajar mengikhlaskan sesuatu yang bukan dirancang untuk kita. Selamat menempuh hidup baru ya mas, semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Warahmah (Dengan nada ikhlas Q sampaikan do'a itu). Besok jangan sampe salah sebut nama ya, ingat bukan Ferri Martin binti . . ., tapi E Binti . . . hehehe (Q tenangkan hati kami masing2 dengan sedikit candaan klasik itu)"
S : "Makasih ya dek. Maafin mas, semoga adek sukses disana dan mendapatkan orang yang lebih baik dari mas, Amin..." (Mengakhiri pembicaraan dengan sebait kata menguatkan Q).
A : "Amin. Makasih mas. Do'a yang sama untukmu. Assalammu'alaikum..." (Menutup telphon dengan irama saling memberi kekuatan)
Itulah obrolan singkat namun menyakitkan di hari ketika semangat dan impian Q baru terukir. Namun, apalah daya, menahan sakit sendiri mungkin jauh lebih baik daripada menyakiti hati orang lain, pikir Q. Semua memang menyakitkan dan berasa mimpi. Karena, dia yang meragukan aku ketika awal dulu aku memilih untuk melangkah ke Batam.
Semua berawal dari . . .
Q memang seorang gadis desa yang jauh dari gaya ngetrend gadis kota, tapi mimpiku menatap masa depan sangat tinggi, bahkan orangtuaku saja tidak percaya Q punya mimpi sebegitu besar, sampai2 mereka khawatir Q kecewa karena mereka takut tidak sanggup mendampingi mimpi Q itu.
Q memang cukup lama pacaran dengan S. Kami resmi pacaran 10-11-2003 (10 November 2003). Waktu itu Q masih duduk di kelas 2 SMP. Masih cukup kanak-kanak memang untuk kenal pacaran, tapi Q serius untuk menjalani pacaran bukan hanya sebatas Cinta Monyet. Tapi, walaupun begitu Q tidak pernah berpikiran untuk menikah muda. Mimpi Besar seorang Gadis Desa ada padaku.
Seiring waktu berjalan, hubungan Q diketahui oleh orang tua Q dan orang tua angkatnya (S adalah seorang Yatim Piatu dari kecil dan di rawat seorang yang Q panggil Kakek dan Nenek = Orang tua angkat S). Orang tua Q sempat kurang setuju mengetahui Q punya hubungan dengannya karena silsilah kelakuan keluarganya kurang baik menurut orang tua Q. Tapi, kalau orang tuanya sangat suka dan sayang pada Q. Walaupun orang tua Q tidak setuju, yang penting Q tidak pernah backstreet dari mereka tentang hubungan Q dan orang tua Q tetap memantau pergaulan Q dan tidak terlalu menghalangi. Gaya pacaran kami pun berbeda dari kebanyakan teman Q di kampung. Setiap ngapel, dia selalu datang ke rumah minta ajarin ngaji. Jadi, kalau dia ngapel, ya pasti orang tua Q tau. Asal diajak jalan keluar Q jarang mau. Ya udah,, kami selalu nongkrong depan rumah bersama teman2 dekat Q.
Suatu hari hubungan Q hampir berjalan 2 tahun, dan ketika Q tamat SMP, orang tuanya menyuruh melamar Q. Q pun terkejut. Q memang sayang dan serius dengannya, tapi tidak mau menikah secepat ini. Usia Q masih terlalu muda untuk membina rumah tangga, dan Q yakin orang tua Q juga pasti tidak akan mengizinkan hal ini. Namun, Q sampaikan ke orang tua angkatnya, bahwa Q masih ingin melanjutkan sekolah ke tingkat SMA, nanti kalau Q lulus SMA, Insya Allah Q udah siap.
Hubungan kami pun terus berjalan. Masalah juga tidak sepi dari hubungan kami. Sempat juga putus nyambung. Sampai di akhir SMA Q, orang tuanya lagi2 menagi janji Q bahwa Q siap dilamar. Tapi, lagi2 Q berdalih masih ingin melanjutkan pendidikan untuk kuliah, jadi Q masih menolak dengan lembut untuk dilamar.
Tapi,,,,
Ketika masa akhir SMA hampir selesai, Q punya mimpi untuk kuliah ke luar kota dari Sumatera Utara. Rencananya kalau tidak di ITB Bandung mungkin di UGM Yogyakarta. Tapi, apalah daya, kala itu perekonomian keluarga sedang goncang. Awal ku sampaikan niat itu ke keluarga, papa menyampaikan "silahkan dipikirkan lagi niat untuk melanjutkan sekolahnya ke luar kota. Kamu perempuan dan kita memang punya keluarga disana cuma nggak tau dimananya, dengan arti kamu sendiri nanti disana, tidak ada yang memantau atau mengingatkan kamu. Daripada sekolah jauh2 dan nanti malah tidak bener karena itu kota besar, ya lebih baik yang dekat2 sini aja". Ya,, papa menyampaikan seperti itu, tapi tetap aja bahwa niat ku adalah untuk belajar, Insya Allah akan aku berikan yang terbaik untuk keluargaku. Bahkan pacarku (kala itu) juga tidak mengijinkan aku untuk sekolah di luar kota. Intinya aku tidak boleh jauh dari pengawasannya juga. Selang waktu, ternyata rencana Allah juga lain, ujian menimpa keluargaku, dan papa menyampaikan bahwa kalau aku tidak bisa melanjutkan kuliah tahun itu juga. Drastis menyedihkan untuk aku, karena ketika mimpi segitu besar udah terukir, papa mematahkan semangat aku begitu saja. Aku yang memang tipikal orang yang keras kepala, menyampaikan ke papa bahwasannya aku pasti bisa kuliah tahun ini juga. Bagaimanapun caranya Q akan memikirkan bagaimana bisa tetap melanjutkan kuliah tahun ini. (dengan nada sedih dan keras kepala Q menyampaikan itu kepada Papa Q).
Seiring waktu berjalan, Allah punya rencana yang lebih baik atas musibah perekonomian keluarga Q. Dari Perusahaan Papa yang lama buka cabang di Batam, dan Papa diminta untuk membantu mengelola pekerjaan disana (karena Papa karyawan terlama dan Insya Allah terpercaya selama bergabung dengan perusahaan tersebut). Akhirnya Papa pun memutuskan untuk hijrah ke Kota Madani itu, Kota Batam. Dan beberapa bulan kemudian, penantian kelulusan Q pun akan tiba. Dan Pimpinan Papa menanyakan keberadaan tentang kelanjutan sekolah Q, dan beliau pun menyarankan agar Q bisa melanjutkan sekolah di Batam saja, biar sekalian bantu2 Papa disana.
Kala Papa menerima saran seperti itu dari Pimpinannya, Q juga sedang bingung memutuskan ingin kemana melanjutkan sekolah Q. Di penghujung Kegiatan Belajar Mengajar, sebelum Q menghadapi Ujian Nasional, sempat terjadi diskusi antara Q dengan kedua orang tua Q. Waktu itu Papa memang sudah di Batam, tapi Papa belum menerima saran dari Pimpinannya. Q menyampaikan ke Papa, bahwa Q ingin kuliah di salah satu Universitas Negeri di Medan saja, Q ingin mengambil Fakultas Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan jurusan Ilmu Eksak. Waktu itu Q jelaskan ke Papa, Q mau mengikuti tes SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru). Kebetulan Wali Kelas waktu itu lulusan kampus tersebut, jadi Q bisa menerima sedikit banyak informasi dari beliau. Akhirnya, Papa pun menyampaikan kepada Q, "terserah kamu saja nak, pilihlah mana yang terbaik untuk kamu. Papa mendukung semua kegiatan positif kamu untuk mencapai cita-citamu". Dari nasihat Papa tersebut, Q pun mulai mencari informasi dari Wali Kelas Q, dan saran dari Wali Kelas Q harus mulai mencari tempat BimBel untuk mempersiapkan menghadapi tes SPMB di kampus tersebut. Ketika Q meminta izin ke Papa untuk mencari tempat BimBel, Papa menyampaikan saran dari atsannya untuk Q melanjutkan sekolah ke Batam saja. Tanpa pikir panjang, Q pun mengikuti saran Papa saja, karena Q tau bagaimana perjuangan Papa untuk Q bisa melanjutkan sekolah. Bahkan ketika hal tersebut Q sampaikan ke pacar Q, dia sangat berat memberikan izin kepada Q untuk Q sekolah ke Batam. Bahkab dia membujuk Q untuk tidak menerima tawaran kuliah ke Batan dengan memo "bahwa dia akan memfasilitasi kuliah Q di Medan. Menanggung biaya kuliah dan memberikan kendaraan untuk fasilitas berangkat kuliah". Q tidak begitu menghiraukan tawaran darinya, karena menurut Q memang fasilitas yang ditawarkan orang tua Q tidak selengkap tawaran fasilitas dari pacar Q, tapi Q tau perjuangan Papa jauh lebih besar dan hebat untuk bisa melihat Q melanjutkan kuliah. Tawaran dari pacar Q, Q hanya sampaikan "simpan saja semua biaya untuk memberikan fasilitas itu untuk mengukir masa depan kita. Insya Allah Q akan lulus tepat waktu, mohon doanya aja. 3 tahun Q kuliah, setelah wisuda Q siap memenuhi keinginan kakek dan nenek (orang tua angkatnya untuk melamar Q)" Q tau dia begitu berat menerima keputusan Q, tapi Q menyampaikan dengan penuh keyakinan bahwa Q akan menjaga semuanya dengan baik. Dan akhirnya dia pun menerimaa keputusan Q.
Q yang tidak tau latar belakang Kota Batam, bahkan kampus yang Q tuju, sampai suatu hari Papa mengirimkan brosur dan formulir pendaftaran dari salah satu kampus yang ada di Kota Batam. Brosur dan formulir itu dititipkan dengan atasan Papa yang lagi pulang ke Medan, dan Q disuruh segera melengkapi formulir itu dan syarat2nya, karena berkas2 itu akan dibawa kembali oleh atasan Papa, sementara atasan Papa tidak sampai seminggu ada di Medan.
Brosur dan formulir tersebut pun sudah Q terima, dan Q pun mulai mengisinya. Tidak kenal dengan latar belakang kampus itu, tidak menjadi masalah lah buat Q, ntar kalau udah nyampe di Batam kan bisa kenalan. hehehhe,,, Sejauh ini Q cukup kenal dengan namanya saja "Politeknik Batam"
Setiba Q melihat jurusan yang ada di kampus itu, hanya ada 3 jurusan yaitu Akuntansi -- Teknik Informatika -- Teknik Elektronika. Sontak saja Q bingung memilih jurusannya. Sama sekali tidak ada jurusan yang Q inginkan. Yang Q pikirkan adalah Akuntansi (Q bukan dari jurusan IPS, melainkan IPA), sedangkan Teknik Elektronika (dipikiran Q pasti kelasnya rata2 kaum Adam semua) dan Teknik Informatika (memang sih Q juga suka dengan dunia komputerisasi, tapi Q hanya ingin belajar otodidak aja). Setelah Q diskusikan dengan Papa Q, kata Papa ya udah ambil Teknik Informatika aja. Ya sudahlah, mau tidak mau, Q coba ambil jurusan Teknik Informatika. Setelah semua berkas Q rasa lengkap, Q serahkan ke atasan Papa lagi, dan Q kabarkan ke Papa kalau semua berkas2nya udah Q serahkan ke atasannya. Ya,, nanti kalau udah diserahkan ke kampusnya, tunggu aja kabar dari kampus untuk pelaksanaan ujiannya.
Waiting Information from There , , , > > >
Sabtu, 20 April 2013
GERBANG KEMANDIRIAN
Disinilah Q tempuh masa kuliah itu...
Q ukir cita...
Q dampingkan dengan cinta kedua orang tua Q...
Bersyukur karena mereka masih bisa mendampingi masa belajar Q...
Kan Q tuaikan masa dimana Q bisa selesaikan dengan tepat waktu....
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM.....
Q langkahkan kaki & Q sadarkan diri Q bahwa Q sekarang sudah MAHASISWA, yang tentunya lebih bijak bertindak & bersikap...
Q PASTI BISA!!!!
Sebait kata motivasi di atas Q jadikan pegangan menjalani hari baru dengan status baru di kota ini.
Daftar ulang telah usai, dan kini Q memasuki dunia kampus untuk pertama kalinya. Senang, takut, bahagia, cemas, semua perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Bahwa sekarang Q punya tantangan baru dengan status MAHASISWA (kaum intelektual yang memiliki janji Tri Dharma Perguruan Tinggi >> 1. Pendidikan & Pengajaran >> 2. Penelitian & Pengembangan >> 3. Pengabdian pada Masyarakat).
Membaca Tri Dharma Perguruan Tinggi itu saja udah sangat membuat Q berat mengucapkannya. Apalagi melakoninya. Tentulah, itu peran Q & kami (MAHASISWA) sekarang. Tidak ada yang berat jika dilakoni, namun yang menjadi kendala adalah pertanggungjawaban dari lakon tersebut.
Point 1 & 2 dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi itu mungkin juga telah Q temui di masa2 sekolah selama 12 tahun. Tapi yang terberat adalah tentulah point 3 "Pengabdian pada Masyarakat". Masa2 sekolah yang identik apatis (memikirkan diri sendiri), hura2, masih berpikir hidup mengalir saja, nah lho,, sekarang disuruh melakoni pengabdian pada masyarakat. Boro2 melakoni atau bahkan sampai harus mengabdi, memikirkan kepentingan masyarakat saja masih setengah hati. Boro2 juga memikirkan itu (kepentingan masyarakat), untuk terlalu berat memikirkan masalah atau kepentingan keluarga saja acuh.
Itulah pemikiran klasik yang sempat berguncang & bergejolak di gerbang kemahasiswaan Q. Logika mengatakan mana mungkin Q mampu, tapi hati berkehendak mencoba (tantangan itu sesuatu ya, itulah untuk Q yang memang sangat doyan dengan dunia sosial, berorganisasi tentu wadahnya). Sudah Q mulai dunia organisasi sejak SD, dan Q tetap ingin melanjutkan hingga kini, ketika Q masih bisa merasakan dunia pendidikan di Perguruan Tinggi.
Masa OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus) yang kala itu kakak2 senior menyebutnya dengan MOM (Masa Orientasi Mahasiswa) telah tiba. Hampir 1 minggu menjalani OSPEK yang sangat luar biasa gilanya. Benar2 masa orientasi yang SUPER GALAU ne selama ada di dunia pendidikan (Gimana enggak gue bilang kayak gitu, ntu OSPEK melebihi OSPEKnya militer lah kayaknya... hehehhe.... Lebaaiii gitu gue ngomongnya ye... ckckkckck :D). Ya,, OSPEK dilaksanakan hampir 1 minggu, terdiri dari kegiatan perkenalan kampus seperti manajemen dan konsep pembelajaran di kampus, kegiatan kemahasiswaan seperti semua organisasi2 yang ada dikampus, dan tentunya SESUATU yang tidak pernah hilang dari kata ajang OSPEK yaitu PERKENALAN SENIORITAS (ntu sih bahasa kasarnya, kalau bahasa halusnya PEMBANTAIAN,, hahahhaha....).
Dari semua kegiatan itu, hanya satu yang cukup begitu menarik, yaitu perkenalan organisasi2 intern yang ada di kampus. Q benar2 sangat tertarik ketika ajang perkenalan organisasi2 yang ada di kampus ini. Banyak banget, rasanya ingin masuk ke semua organisasi itu, tapi apa bisa ngatur waktunya ya??
Diantara organisasi yang Q minati yaitu:
Pada saat OSPEK, panitia (senior) menjadwalkan MABA (Mahasiswa Baru) untuk sudah hadir di kampus pada pukul 03.00 (gilaaa,, kurang pagi ntu om,, tante.. ckkckckck) dengan membawa perlengkapan2 yang sudah mereka suruh ntu, seperti topi toga yang dibuat dari karton (menandakan seorang mahasiswa yang jika lulus pasti memakai topi toga), name tag dengan simbol angka 9 (karena kami angkatan ke 9) yang berisi nama & 3 foto kami sendiri (foto jadul, foto narsis & foto idola). Waktu itu untuk foto jadul Q robek foto hitam putih di raport SD Q (hahahahha) dan untuk foto idola Q pampang foto My Hero 'Papa' Q. Selain itu memakai seragam putih putih. Pakai lilitan rok dan ikat pinggang yang dibuat dari tali rafia. Wah gembel betul kala itu rasanya. Berbicara atribut perlengkapan OSPEK banyak maunya lah panitia ntu. Cukup menguras tenaga, biaya dan tentu waktu untuk mempersiapkanya. Q yang baru hidup di Batam pun nggak tau harus cari kemana. Tanya papa pun tak tau, ya karena papa disini juga nggak pernah kemana2. Cuma kerja aja tau papa ntu, Hmmmmmm......
Selama 1 minggu berangkat jam 3 pagi pulang nyampe di rumah jam 7 malam. Waktu itu papa belum punya kendaraan di Batam, jadi setiap pagi papa antar Q ke depan gerbang untuk naik ojek (angkot mana ada jam 3 pagi... hadeeehhh... X_X). Papa khawatir sangat pertama kali hari OSPEK itu, karena harus berangkat jam 3 pagi dengan ojek lagi. Malah Q nya nggak boleh bawa HP lagi sama Senior. Bingung juga kan?? Tapi mau nggak mau, khawatir nggak khawatir papa seakan tegar merelakan Q pergi dalam kekhawatirannya. Dan Q pun berani nggak berani mau nggak mau harus nekat. Cara menutupinya, berlagak jadi orang sombong yang harus ngesok udah kenal wilayah Batam dan tentunya udah pura2 lama tinggal disini (heheheheh... Padahal pucat juga ntu wajah kalau mau berangkat. Hmmmm....). Papa selalu bilang kalau pulang nggak usah naik angkot dulu, karena selain turunnya jauh, kamu juga masih baru di Batam. Jadi kalau pulang dari kampus Q naik ojek lagi (maklumlah, angkot nggak tau harus naik yang mana, papa pun nggak tau. Taxi jelas mahal. Gue bukan orang kaya atau mau belagak kaya datang kesini. heheheh.. So,, ngojek aja lah). Jadi, pulang pergi dari dan ke kampus Q selama masih baru ini naik ojek. Cukup lumayan jugalah biaya, tapi menjaga keamanan sesaat.
Pada masa OSPEK banyak cerita sakit, sedih, seru dan bahagia (S3B) tentunya. Rangkaian cerita yang kala itu Q rasakan memiliki dunia baru dalam kemandirian. Inilah cerita semua RASA itu ...............................................................................................................................
SAKIT.....................................................................................................................
Q yang baru berada di kota ini mana Q tau toko buku, mall dan tempat2 tertentu dimana. Sakit rasanya karena papa juga nggak tau. Sementara waktu itu banyak bener peralatan OSPEK yang aneh2. Suruh beli kaus kaki bola lah yang warnanya sesuai warna jurusan, kaus putih oblong yang longgar lah, sandal jepit sesuai warna jurusan lah, banyak macam lah. Belum lagi perlengkapan OSPEK yang lain yang setiap harinya selalu dirusak sama senior ketika pengecekan atribut ketika mau pulang di gerbang kampus. Aneh kan??? Kalau pagi cek atribut, kalau nggak ada atau nggak lengkap kena lagi ntu hukuman. Eh,,, udah coba dilengkapi,, pulangnya malah seenaknya mereka rusak. Benar2 aneh,, tidak merasakan SAKIT & SUSAH yang kami derita. (Kala itu Q berpikirnya, mereka para senior orang kaya semua apa ya?? Koq tega2nya kayak gini? Menyiapkan itu semua butuh biaya yang lebih. Teringat bantuan papa dan ibu yang sangat susah payah untuk bisa Q menginjak perguruan tinggi. Entahlah... Sedih banget hidup Q rasanya...)
Pergi jam 3 pagi, sampai di rumah jam 7 malam. Berbenah diri alias bersih2 diri (maklum, muka udah blepotan z sama lipstik2 coretan Senior terhormat, pakaian juga ntah udah bau apa rasanya kalau udah ke outdoor). Pulang2 sama papa harus keluar cari makan malam lagi. Seminggu OSPEK, sumpah nggak demen sama makanan apa pun Q. Berat badan pun drastis turun. Papa aja ngelihat Q bawaannya mau marah karena susah diatur makan. Sakit magh kambuh pun Q belagak cuek sok sehat di depan papa. Setiap malam keluar cari makan dekat rumah dan sekalian cari perlengkapan atribut buat OSPEK. Sampai lagi di rumah sekitar jam 10. Mulailah merangkai semua atribut OSPEK dibantu sama papa. Sempat sakit kepala + menahan tangis di dalam hati "Papa, maafkan Q, untuk urusan seperti ini masih merepotkan papa. Seharusnya papa udah istirahat karna papa harus bekerja besok dan pekerjaan papa sangat berat dari ini". Sempat Q sampaikan itu ke papa untuk istirahat saja, biar Q yang mengerjakan sendiri. Tapi papa bilang "udah, nggak apa2, biar cepat selesai, biar kamu juga cepat istirahat." Dalam hati tersentak "Subhanallah,, papa luar biasa untuk semua ini, terimakasih telah memberi sosok papa seperti dia Rabbi... #Sambil menahan airmata merasakan semua ini". Papa bela2in bantuin Q karena udah melihat Q dihari pertama sampai tidak ada waktu tidur sedikitpun seharian itu dan papa melihat wajah Q pucat, makanya papa bela2in juga untuk bantu Q, karena memang susah buat atributnya dan banyak. Hari2 OSPEK hanya punya waktu istirahat 1 jam, itupun udah lama banget kayaknya. Jam istirahat papa pun terganggu, jam 1 baru selesai menyelesaikan semua perlengkapan jam 02:30 harus mengantar Q ke depan gerbang. Kalau sempat bisa tertidur sambil menanti adzan subuh itulah tambahan istirahat papa. Ya Allah,, begitukah Q menyiksa waktu istirahat papa. Karena cuma papa yang Q punya disini :'(.
Mau kemana2 cari perlengkapan susah, selain karena nggak tau tempatnya, juga tidak ada kendaraan yang bisa cepat seperti motor. Punya teman baru juga rata2 ngekost. Waw, hebohnya kesabaran yang Allah titipkan ke Q dan keluarga Q.
SAKIT yang terasa bukan hanya di fisik karena pagelaran OSPEK, tapi batin, hati dan perasaan memikirkan orang tua terutama papa yang udah Q sibukkan dengan semua yang Q butuhkan disini. Bingung harus bagaimana, karena bertindak sendiri Q belum kenal wilayah ini. Tak izin papa pun, dia pasti akan marah karena dia tahu Q masih meraba disini.
Itulah sakitnya merantau, MUNGKINKAH..........???
SEDIH...................................................................................................................
Karena sakit di atas, tentulah muncul kesedihan itu. Tapi bukan hanya itu. Q adalah seorang cewek yang selalu bermain dengan perasaan dalam hal perjuangan.
Keluarga, terutama papa dan ibu memang tau Q adalah putri mereka yang demen sama dunia PERTUALANGAN. Pertama kali berpetualang lewat dunia kepramukaan. Selalu Q mengikuti dunia kemah. Q nggak pernah takut. Tapi, waktu itu pertama kali perkemahan Q, papa dan ibu sangat mengkhawatirkan Q untuk berangkat. Tapi Q yakinkan Q bisa. Mereka berani melepas Q berpetualang bersama kekhawatiran mereka. Selalu Q ikuti setiap kegiatan. Jauh dan membutuhkan pisah jarak dengan mereka beberapa hari, tapi memang semua masih terjangkau untuk mereka jenguk Q atau tidak pernah Q pergi ke luar kota. Dan Q pun sangat tegar. Tidak ada yang sangat mengganggu perasaan Q untuk ke keluarga. Tapi disini, Q nggak sekuat itu. Papa yang tinggal bersama Q saja sangat menjadi bahan tangisan kesedihan Q ketika merenungi semua perjalanan ini. Melihat papa yang tak kenal lelah membantu Q disini. Apalagi ibu yang benar2 jauh disana yang selama hampir 1 minggu lebih Q tak pernah dengar suaranya, tak pernah terima telphon atau telphon ibu karena memang tidak ada waktu untuk bersantai. Komunikasi perasaan saja Q dengan ibu selama masa2 OSPEK ini. Hanya bisa menangis menahan rindu sapaan ibu dan adik kecilku disana.
Kala itu OSPEK hampir selesai, dan materi tentang intropeksi pengenalan diri. Materi yang berisi tentang muhasabah diri untuk merenungkan siapa kita dan untuk apa serta untuk siapa kita ada di dunia ini. Materi yang benar2 menyiksa perasaan Q menahan rindu pada ibu yang hampir 1 minggu tidak ada saling sapa via telphon. Apalagi ketika renungan itu ditujukan untuk orang yang tercinta dalam hidup ini, jelas sosok papa dan ibu yang menjadi tujuan Q. Sampai disinggung dalam renungan itu "Coba bayangkan jika orang tercintamu sudah tidak bisa menyapamu lagi, mengingatkan bahkan harus marah.......................................". Penggalan kalimat yang Q kutip sangat benar2 mengiris betapa Q sangat rindu ibu, Meracuni pikiran Q jika sewaktu2 takdir Allah mengambil ibu di tengah kesibukan Q begini, Q masih ingin ibu marah pada Q karena itu ukiran cinta terhebatnya menata kesuksesan buah hatinya. Tiada kata dalam tangisan hati penuh DO'A dalam CINTA "Rabbi, titip rindu buat ibu, Q masih ingin dengar marah ibu, Q masih ingin ibu dampingi hari2 Q membalas sakit ini sampai topi toga bisa menutupi kepala Q dengan ukiran cintanya, mengukir kebanggaan ini hanya untuknya. Rabbi, maafkan Q melalaikan waktu untuk menyapa ibu di sela kesibukan yang biasa ini." (--Do'a yang Q rintih penuh dengan haru air mata--Tak peduli tangisan Q sekuat apa waktu itu). Nangis sejadi2nya, Q tau airmata tak menjadi kata maaf untuk sebuah kelalaian, tapi cuma itu yang bisa tercurahkan dengan gamblangnya. Setelah materi itu, beberapa teman satu tim Q menanyakan "Ve, kamu kuat banget nangisnya? Emang jauh dari ortu ya?? (Maklum mereka tanya, kan kita baru kenal)". Q pun menjawab "Q disini hanya dengan papa. Merantau untuk kuliah disini adalah pertama kalinya Q merantau dan pergi jauh dari ibu. Q sering bepergian meninggalkan ibu di rumah untuk sebuah kegiatan organisasi, tapi tidak sejauh dan selama Q disini. Dan selama OSPEK Q belum pernah terima telphon atau telphon ibu. Nggak sempatlah rasanya mau lihat HP itu. Jadi tadi ntu teringat kalau terjadi apa2 aja dengan ibu disana".
Itulah sedih Q. Baru menyadari dulu ketika hari2 bersama ibu, Q malah sering nggak betah di rumah. Jadi kalau ada kegiatan di luar rumah seperti perkemahan dan sebagainya Q selalu milih langsung untuk ikut tanpa harus izin terlebih dahulu. Kalau sudah mau pergi baru deh izin. Tapi, sekarang, betapa Q benar2 seperti ibu yang ingin pergi meninggalkan Q untuk mengikuti kegiatan di luar rumah. Q benar2 tau arti CINTA ini untuk KELUARGA. Intropeksi diri, Q sadari hidup adalah perjuangan, dan sekarang Q mulai harus tau yang menjadi tanggung jawab Q. Cinta ini sering dispelekan tapi sangat berarti menata kehidupan.
SERU.....................................................................................................................
Serulah pastinya. Punya tantangan baru dengan lingkungan dan teman2 yang baru. Berbagi pengalaman dan cerita dengan teman2 yang datang dari beberapa daerah di luar Batam menjadi tantangan tersendiri. Terlebih lagi ketika acara Senioritas, dimana acaranya dihadiri oleh senior dari angkatan 1 sampai 8 datang semua untuk melakukan PERKENALAN (padahal PEMBANTAIAN ntu) kepada Mahasiswa baru. Senior benar2 jadi artis waktu itu, kita harus minta tanda tangan ke mereka lah, baju yang kita pake siap2 aja ntu untuk jadi tempat TANDA TANGAN RIA mereka. Ada juga yang dibuatkan yel2 yang lucu tapi memalukan (kalau disadari jadi bahan hiburan juga sih. heheheh). Siap2 lah untuk dimara2hi sama senior, siap jadi kacungnyalah pokoknya. Bagai makan buah SIMALAKAMA, ditentang makin ditendang, dituruti makan hati. Serba salaaahhh!!! Tapi endingnya seru juga lah. Jadi saling kenal dengan senior, apalagi setelah memasuki dunia kampus, jadi enak sharingnya karena sudah kenal. Semua kegiatan mempunyai keseruan tersendirilah tentunya.
BAHAGIA...............................................................................................................
Hari terakhir OSPEK membawa kebahagiaan tersendiri tentunya. Awalnya antara mahasiswa baru dengan senior sangat mempunyai gape dalam berkomunikasi, bahkan sama yang udah kenal atau teman saja dianggap nggak kenal. Sebuah profesionalisme yang terjunjung. Namun, ketika acara ini berakhir, sangat terjadi keakraban diantara kami. Kita semua bersahabat dan bersaudara dalam 1 perguruan tinggi "Politeknik Batam".
Itulah semua rasa yang terukir. Sangat luar biasa berada diantara mereka dan digedung ini (Politeknik Batam). Hari demi hari Q jalani masa OSPEK ini dengan sabar. Suka duka di diri sendiri dan tim di masa OSPEK sangat menuntut kerja sama kami yang berjumlah lebih kurang 20an orang. Berasa mempunyai keluarga baru.
OSPEK pun selesai selama 1 minggu, dan tibalah dihari terakhir OSPEK. Ada BALAS DENDAM ke panitia judulnya. Wah,, kawan2 pada heboh semuanya, benar2 balas dendam sama tindakan panitia. Kawan2 sangat mencari ntu senior yang doyannya coret2 muka dan marah2 sama mahasiswa baru. Kena dech 1 nama itu yang tidak perlu disebutkan namanya. Puas2 dech ka2k itu. Kalau Q balas dendamnya sedapat Q aja panitianya, nampak sikit coretkan aja itu lipstik, hehehhehe.
Selesai acara Balas dendam, kami pun ada acara Dinner bareng panitia. Disitulah waktunya CPCP (Curi Pandang Cari Pacar, hahhahah). Ngobrolin dunia perkuliahan, dunia organisasi sistem manajemen kampus. Banyaklah. Tak jarang juga untuk SKSD (Sistem Kenalan Selama Darurat), maklumlah memanfaatkan situasi dan kondisi. Kan udah nggak ada lagi ntu bahasa senioritas, arena kan udah minta maaf. Selesai makan malam, ada lagi perkara baru. Mulai lagi ntu panitia marah2 nggak jelas, katanya ada diantara kami yang jelek2in nama mereka lah, ngumpat di belakang mereka lah, macam2 lah, dan kami disuruh mengakui siapa orangnya. Ya, kalaupun ada mana ada yang berani ngaku, Pengumpat ngaku, penjara penuh, hahahah. Akhirnya, karena kami yang salah, kami disuruh pejamkan mata dan menundukkan kepala sambil menutup kedua telinga kami dengan kedua tangan, tidak boleh ada mata yang terbuka (Begitulh panitia selama OSPEK kalau kami punya kesalahan atau kalau mereka lagi demen mau marah2 sama kami, selalu harus memejamkan mata sambil menundukkan kepala dan menutup kedua telinga dengan tangan, menyebalkan....) Akhir cerita kalau tidak salah kami ada dipanggil 4 orang yang terdiri dari 2 cowok dan 2 cewek untuk maju kedepan sebagai tersangka, dan apesnya masuklah nama Q sebagai nominasinya. Sumpah!!! Kalut banget perasaan Q waktu itu. Mana ada Q ngumpat di belakang mereka, ngobrol sama teman kalau nggak penting aja nggak akan ngobrol. Huh,, sial banget Q yang harus maju ke depan sebagai salah satu tersangka. Malu bangetlah maju dengan embel2 begituan. Tapi, nggak tau lah, dibilang katanya Q ada fitnah salah satu panitia, ya jelas Q bilang nggak ada bahkan ngakunya sampe pakai "Sumpah, Demi Allah!", beeggghhh,, tapi sayangnya panitia nggak ada yang percaya. Malah dikatain "halah, munafiq kamu pake sumpah2 segala. malu sama jilbab kamu". Q pun diam ajalah sembari di dalam hati mengucap "Astaghfirullah...." Pasrah ajalah Q panitia mau bilang apa. Komentar pun tetap salah di mata mereka. Sesuailah sama "Pasal Senioritas", pasal pertama "SENIOR TIDAK PERNAH SALAH", pasal kedua "JIKA SENIOR SALAH, MAKA KEMBALI KE PASAL PERTAMA", (Cuaapeeekkk dech!!!) Kami yang dipanggil berempat tadi dimarah2lah sepuas2 mereka. Q tidak begitu memperhatikan ketiga teman Q, karena Q hanya menunduk. Q yang dari awal berusaha membela diri atas tuduhan panitia eh,, ternyata tetap salah di mata mereka, akhirnya hanya bisa menangis (dikatain lagi, "kamu mahasiswa apa?? Cengeng banget, airmata buaya. Di depan kami menangis, di belakang kami kamu lancar ngata2in kami"). Ya, ampun Tuhan, airmata tak bisa terbendung lagi. Terserahlah, pasrah!
Akhirnya, setelah banyak cibiran dari panitia datang ke kami (ke empat tersangka) (ketika kami dianiaya cibiran, posisi teman2 masih dengan menundukkan kepala dengan menutup mata dan menutup telinga mereka), kami pun di publish di depan teman2 (mata mereka sudah terbuka) dan salah satu panitia mengatakan "Inilah kandidat teman2 kalian yang aktif dan komunikatif selama OSPEK". Wah, wajah Q yang tadinya masih tersedu2 menangis, langsung oblong grogi tak menentu sembari disambut tepuk tangan kawan2 yang lainnya (ngeri juga ach panitia ini buat skenario acting, coba kalau ada sutrada dan produser ya, udah tenar dech kayaknya, hahahahha). Kemudian salah satu MC tadi menyambung kata2nya "eits,, tapi jangan senang dulu, masih ada 1 langkah lagi yang harus kalian lewati agar terpilih "King & Queen MOM 2008" untuk menjawab pertanyaan dari Presiden Mahasiswa dan perwakilan dari Queen 2007". Hati Q langsung nervous nggak ketolongan. Senang juga bisa masuk "Nominasi King & Queen 2008" (bangga jelas lah karena masuk kesana dinilai dari keaktifan dan komunikatif selama OSPEK berjalan mulai dari debat diskusi, keaktifan mengajukan pertanyaan kepada pembicara dalam sebuah materi seminar dan mengajukan saran dan pendapat dalam sebuah masalah yang dikasih senior atau panitia. Ternilai cukup aktif lah.)
Pengajuan pertanyaan pun dimulai. Sebelum dilakukan sesi tanya jawab, Q mantapkan hati dengan mengucap basmalah, semoga bisa lancar menjawab. Amin (Maklum, terkadang grogi mampu menjangkit, apalagi di depan khalayak umum. halah,, mulai lebai Q ne.. heheheh). Q lupa pertanyaannya apa, Presiden Mahasiswa 1 pertanyaan dan perwakilan Queen 2007 1 pertanyaan. Semua pertanyaan untuk kami sama, tapi jelas kami punya pandangan masing2. Seketika giliran Q yang harus menjawab pertanyaan, dapat nomor urut 3 yang harus segera menjawab. Q pun mulai menjawab dengan kelihaian logika atas pertanyaan yang diberi. Singkat cerita, sesi tanya jawab untuk kami berempat selesai, dan tibalah pengumuman King & Queen MOM 2008.
Sebuah suasana yang tidak disangka dan Q juga tidak mengharapkannya. Alhamdulillah terpilih King MOM 2008 adalah M Asrul Himawan (jurusan Teknik Elektronika) dan Queen MOM 2008 yaitu Q, Ferri Martin (jurusan Teknik Informatika). Bangga, senang dan sangat merasa luar biasa dengan diri Q sendiri karena terpilih lewat seleksi nominasi melalui penilaian kemampuan komunikatif dan pendapat dari diri sendiri, bukan dari ajang pemilihan atau pemungutan suara terbanyak. Akhirnya terpilih sebagai Queen MOM 2008 juga melalui sebuah jawaban yang Q jawab semampu Q, bahkan Q nilai sangat biasa jawaban itu dari ketiga teman Q yang lain. Kembali lagi, rezeki takkan kemana, takkan lari gunung dikejar.
Puji syukur yang tak terhingga Q alunkan dalam hati penuh nada do'a mendapat hadiah ini. Apalagi ketika dipasangkan slempang dan mahkota sederhana itu, betapa ada yang sangat spesial di diri Q. Jawaban2 Q di setiap kegiatan seperti menjadi acuan penilaian panitia. Penuh do'a Q sampaikan ini lewat hati dalam seduan tangisan Q "Papa, bunda, ini hadiah yang Q terima selama 1 minggu mengawali hari2 Q di kampus ini nanti selama 3 tahun. Ini Q persembahkan hanya untuk kalian. Belum bisa lewat materi seperti yang telah kalian urai seumur hidup Q ini. Ini memang tidak semahal perjuangan hati dan materi yang telah diberi, tapi ini hadiah kebanggaan dari Q bahwa Q bangga memiliki kedua orang tua seperti kalian yang terus memberi motivasi dan masukan setiap langkah yang Q pilih. Q tau betapa sangat kerasnya perjuangan kalian ingin melihat Q yang BERKERAS HATI tetap akan kuliah ketika Q lulus SMA, sementara telah Q dengar dari mulut papa bahwa papa tidak bisa menguliahkan Q tahun ini juga (2008, tahun ketika Q lulus SMA) karena kondisi perekonomian yang tidak stabil. Tapi Allah menunjukkan jalan itu, dan inilah puji syukur perjuangan itu Rabbi. Tidak ada perjuangan yang sia2, Q yakin itu. Untuk papa, ini hasil perjuangan papa menemani seminggu Q mengurus semua perlengkapan OSPEK sampai papa tidak tidur. Buat bunda, pulang ini Q akan telphon bunda, Q kangen dan sangat merindukanmu bun. Akan Q ceritakan panjang hari2 sakit, sedih seru dan bahagia Q selama seminggu menjajaki dunia pendidikan baru ini tanpa mengirim atau menerima kabar dari mu. Ini secuil bahagia sederhana yang Q persembahkan hanya untuk kalian pahlawan dan malaikat dunia Q. Ya Allah ucap syukur tertatih dalam do'a Q sembah kehadiratMu. Bangga Q bawa dengan cinta Q sembahkan hanya untuk kalian PAPA & BUNDA Q dan seseorang yang Q tau dia mencintai Q (kala itu Q punya hubungan dengan seseorang, bisa dikatakan pacarlah yang juga terus memberi motivasi kepada Q dan ketika Q melangkah ke Batam Q tau dia menanti Q di Medan). Terima kasih untuk cinta kalian :* ".
OSPEK pun selesai selama 1 minggu dengan suka duka yang luar biasa. Ada pengalaman tersendiri tentunya selama Q mengikuti kegiatan OSPEK ini disini. Pengalaman yang membuat Q semakin dewasa memaknai hidup. Pengalaman yang membuat Q semakin gigih untuk belajar menapaki hidup penuh warna serta pengalaman yang tentunya akan Q jadikan warna sejarah dalam hidup Q kelak. Terima kasih kepada panitia dan senior yang telah membantu membimbing kami menjadi kaum intelektual yang harus menjunjung independensi jiwa mahasiswa yang membela kepentingan rakyat demi menggelar sejarah perjuangan untuk menjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Terima kasih pula kepada civitas kampus Politeknik Batam yang telah memberi fasilitas kemahasiswaan yang luar biasa di kampus ini. Dan terima kasih yang luar biasa untuk teman2 1 angkatan Q "Mahasiswa Politeknik Batam 2008" untuk semua pengalaman yang saling kita bagi selama OSPEK, tentunya
menuntut kerja sama kita untuk sabar menghadapi senior, terutama teman2 1 tim Q. Salam perjuangan, hidup untuk rakyat, junjung intelektual, HIDUP MAHASISWA!!! (Salam kebanggaan yang harus diucapkan ketika berorasi, heheh)
Dari semua kegiatan itu, hanya satu yang cukup begitu menarik, yaitu perkenalan organisasi2 intern yang ada di kampus. Q benar2 sangat tertarik ketika ajang perkenalan organisasi2 yang ada di kampus ini. Banyak banget, rasanya ingin masuk ke semua organisasi itu, tapi apa bisa ngatur waktunya ya??
Diantara organisasi yang Q minati yaitu:
1. BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yaitu organisasi tertinggi (eksekutif) di kampus yang memotori organisasi2 lainnya.
2. IMMPB (Ikatan Mahasiswa Muslim Politeknik Batam) adalah sebuah organisasi keagamaan terutama untuk mahasiswa yang beragama Islam yang ada di kampus.
3. K-PAL (Komunitas Pecinta Alam) adalah organisasi kampus yang bergerak di bidang lingkungan alam.
4. KUAS (Kumpulan Anak Seni) adalah organisasi yang bergerak di bidang seni dan budaya.
5. HMTI (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika) yaitu oraganisasi jurusan yang ada di kampus.
Alasan memilih semua itu ya, karena Q merasa punya bakat untuk bisa berpartisipasi disana. BEM Q ingin karena itu merupakan organisasi tertinggi kampus yang memotori beberapa organisasi yang ada di kampus. IMMPB, ya karena Q seorang akhwat muslim yang mesti harus ikut, lumayan nerusin pengajian2 yang pernah Q lakoni ketika dikampung halaman tercinta. K-PAL nerusin perjuangan ketika dulu sering ikut kegiatan kepramukaan. KUAS, ada bakat sedikit kalau disuruh baca puisi atau saritilawah. Pengen galih potensi lagi aja. Kalau HMTI mah wajib, karena Q kan jurusan Teknik Informatika, jadi secara tidak langsung memang sudah masuk di organisasi itu.
Pada saat OSPEK, panitia (senior) menjadwalkan MABA (Mahasiswa Baru) untuk sudah hadir di kampus pada pukul 03.00 (gilaaa,, kurang pagi ntu om,, tante.. ckkckckck) dengan membawa perlengkapan2 yang sudah mereka suruh ntu, seperti topi toga yang dibuat dari karton (menandakan seorang mahasiswa yang jika lulus pasti memakai topi toga), name tag dengan simbol angka 9 (karena kami angkatan ke 9) yang berisi nama & 3 foto kami sendiri (foto jadul, foto narsis & foto idola). Waktu itu untuk foto jadul Q robek foto hitam putih di raport SD Q (hahahahha) dan untuk foto idola Q pampang foto My Hero 'Papa' Q. Selain itu memakai seragam putih putih. Pakai lilitan rok dan ikat pinggang yang dibuat dari tali rafia. Wah gembel betul kala itu rasanya. Berbicara atribut perlengkapan OSPEK banyak maunya lah panitia ntu. Cukup menguras tenaga, biaya dan tentu waktu untuk mempersiapkanya. Q yang baru hidup di Batam pun nggak tau harus cari kemana. Tanya papa pun tak tau, ya karena papa disini juga nggak pernah kemana2. Cuma kerja aja tau papa ntu, Hmmmmmm......
Selama 1 minggu berangkat jam 3 pagi pulang nyampe di rumah jam 7 malam. Waktu itu papa belum punya kendaraan di Batam, jadi setiap pagi papa antar Q ke depan gerbang untuk naik ojek (angkot mana ada jam 3 pagi... hadeeehhh... X_X). Papa khawatir sangat pertama kali hari OSPEK itu, karena harus berangkat jam 3 pagi dengan ojek lagi. Malah Q nya nggak boleh bawa HP lagi sama Senior. Bingung juga kan?? Tapi mau nggak mau, khawatir nggak khawatir papa seakan tegar merelakan Q pergi dalam kekhawatirannya. Dan Q pun berani nggak berani mau nggak mau harus nekat. Cara menutupinya, berlagak jadi orang sombong yang harus ngesok udah kenal wilayah Batam dan tentunya udah pura2 lama tinggal disini (heheheheh... Padahal pucat juga ntu wajah kalau mau berangkat. Hmmmm....). Papa selalu bilang kalau pulang nggak usah naik angkot dulu, karena selain turunnya jauh, kamu juga masih baru di Batam. Jadi kalau pulang dari kampus Q naik ojek lagi (maklumlah, angkot nggak tau harus naik yang mana, papa pun nggak tau. Taxi jelas mahal. Gue bukan orang kaya atau mau belagak kaya datang kesini. heheheh.. So,, ngojek aja lah). Jadi, pulang pergi dari dan ke kampus Q selama masih baru ini naik ojek. Cukup lumayan jugalah biaya, tapi menjaga keamanan sesaat.
Pada masa OSPEK banyak cerita sakit, sedih, seru dan bahagia (S3B) tentunya. Rangkaian cerita yang kala itu Q rasakan memiliki dunia baru dalam kemandirian. Inilah cerita semua RASA itu ...............................................................................................................................
SAKIT.....................................................................................................................
Q yang baru berada di kota ini mana Q tau toko buku, mall dan tempat2 tertentu dimana. Sakit rasanya karena papa juga nggak tau. Sementara waktu itu banyak bener peralatan OSPEK yang aneh2. Suruh beli kaus kaki bola lah yang warnanya sesuai warna jurusan, kaus putih oblong yang longgar lah, sandal jepit sesuai warna jurusan lah, banyak macam lah. Belum lagi perlengkapan OSPEK yang lain yang setiap harinya selalu dirusak sama senior ketika pengecekan atribut ketika mau pulang di gerbang kampus. Aneh kan??? Kalau pagi cek atribut, kalau nggak ada atau nggak lengkap kena lagi ntu hukuman. Eh,,, udah coba dilengkapi,, pulangnya malah seenaknya mereka rusak. Benar2 aneh,, tidak merasakan SAKIT & SUSAH yang kami derita. (Kala itu Q berpikirnya, mereka para senior orang kaya semua apa ya?? Koq tega2nya kayak gini? Menyiapkan itu semua butuh biaya yang lebih. Teringat bantuan papa dan ibu yang sangat susah payah untuk bisa Q menginjak perguruan tinggi. Entahlah... Sedih banget hidup Q rasanya...)
Pergi jam 3 pagi, sampai di rumah jam 7 malam. Berbenah diri alias bersih2 diri (maklum, muka udah blepotan z sama lipstik2 coretan Senior terhormat, pakaian juga ntah udah bau apa rasanya kalau udah ke outdoor). Pulang2 sama papa harus keluar cari makan malam lagi. Seminggu OSPEK, sumpah nggak demen sama makanan apa pun Q. Berat badan pun drastis turun. Papa aja ngelihat Q bawaannya mau marah karena susah diatur makan. Sakit magh kambuh pun Q belagak cuek sok sehat di depan papa. Setiap malam keluar cari makan dekat rumah dan sekalian cari perlengkapan atribut buat OSPEK. Sampai lagi di rumah sekitar jam 10. Mulailah merangkai semua atribut OSPEK dibantu sama papa. Sempat sakit kepala + menahan tangis di dalam hati "Papa, maafkan Q, untuk urusan seperti ini masih merepotkan papa. Seharusnya papa udah istirahat karna papa harus bekerja besok dan pekerjaan papa sangat berat dari ini". Sempat Q sampaikan itu ke papa untuk istirahat saja, biar Q yang mengerjakan sendiri. Tapi papa bilang "udah, nggak apa2, biar cepat selesai, biar kamu juga cepat istirahat." Dalam hati tersentak "Subhanallah,, papa luar biasa untuk semua ini, terimakasih telah memberi sosok papa seperti dia Rabbi... #Sambil menahan airmata merasakan semua ini". Papa bela2in bantuin Q karena udah melihat Q dihari pertama sampai tidak ada waktu tidur sedikitpun seharian itu dan papa melihat wajah Q pucat, makanya papa bela2in juga untuk bantu Q, karena memang susah buat atributnya dan banyak. Hari2 OSPEK hanya punya waktu istirahat 1 jam, itupun udah lama banget kayaknya. Jam istirahat papa pun terganggu, jam 1 baru selesai menyelesaikan semua perlengkapan jam 02:30 harus mengantar Q ke depan gerbang. Kalau sempat bisa tertidur sambil menanti adzan subuh itulah tambahan istirahat papa. Ya Allah,, begitukah Q menyiksa waktu istirahat papa. Karena cuma papa yang Q punya disini :'(.
Mau kemana2 cari perlengkapan susah, selain karena nggak tau tempatnya, juga tidak ada kendaraan yang bisa cepat seperti motor. Punya teman baru juga rata2 ngekost. Waw, hebohnya kesabaran yang Allah titipkan ke Q dan keluarga Q.
SAKIT yang terasa bukan hanya di fisik karena pagelaran OSPEK, tapi batin, hati dan perasaan memikirkan orang tua terutama papa yang udah Q sibukkan dengan semua yang Q butuhkan disini. Bingung harus bagaimana, karena bertindak sendiri Q belum kenal wilayah ini. Tak izin papa pun, dia pasti akan marah karena dia tahu Q masih meraba disini.
Itulah sakitnya merantau, MUNGKINKAH..........???
SEDIH...................................................................................................................
Karena sakit di atas, tentulah muncul kesedihan itu. Tapi bukan hanya itu. Q adalah seorang cewek yang selalu bermain dengan perasaan dalam hal perjuangan.
Keluarga, terutama papa dan ibu memang tau Q adalah putri mereka yang demen sama dunia PERTUALANGAN. Pertama kali berpetualang lewat dunia kepramukaan. Selalu Q mengikuti dunia kemah. Q nggak pernah takut. Tapi, waktu itu pertama kali perkemahan Q, papa dan ibu sangat mengkhawatirkan Q untuk berangkat. Tapi Q yakinkan Q bisa. Mereka berani melepas Q berpetualang bersama kekhawatiran mereka. Selalu Q ikuti setiap kegiatan. Jauh dan membutuhkan pisah jarak dengan mereka beberapa hari, tapi memang semua masih terjangkau untuk mereka jenguk Q atau tidak pernah Q pergi ke luar kota. Dan Q pun sangat tegar. Tidak ada yang sangat mengganggu perasaan Q untuk ke keluarga. Tapi disini, Q nggak sekuat itu. Papa yang tinggal bersama Q saja sangat menjadi bahan tangisan kesedihan Q ketika merenungi semua perjalanan ini. Melihat papa yang tak kenal lelah membantu Q disini. Apalagi ibu yang benar2 jauh disana yang selama hampir 1 minggu lebih Q tak pernah dengar suaranya, tak pernah terima telphon atau telphon ibu karena memang tidak ada waktu untuk bersantai. Komunikasi perasaan saja Q dengan ibu selama masa2 OSPEK ini. Hanya bisa menangis menahan rindu sapaan ibu dan adik kecilku disana.
Kala itu OSPEK hampir selesai, dan materi tentang intropeksi pengenalan diri. Materi yang berisi tentang muhasabah diri untuk merenungkan siapa kita dan untuk apa serta untuk siapa kita ada di dunia ini. Materi yang benar2 menyiksa perasaan Q menahan rindu pada ibu yang hampir 1 minggu tidak ada saling sapa via telphon. Apalagi ketika renungan itu ditujukan untuk orang yang tercinta dalam hidup ini, jelas sosok papa dan ibu yang menjadi tujuan Q. Sampai disinggung dalam renungan itu "Coba bayangkan jika orang tercintamu sudah tidak bisa menyapamu lagi, mengingatkan bahkan harus marah.......................................". Penggalan kalimat yang Q kutip sangat benar2 mengiris betapa Q sangat rindu ibu, Meracuni pikiran Q jika sewaktu2 takdir Allah mengambil ibu di tengah kesibukan Q begini, Q masih ingin ibu marah pada Q karena itu ukiran cinta terhebatnya menata kesuksesan buah hatinya. Tiada kata dalam tangisan hati penuh DO'A dalam CINTA "Rabbi, titip rindu buat ibu, Q masih ingin dengar marah ibu, Q masih ingin ibu dampingi hari2 Q membalas sakit ini sampai topi toga bisa menutupi kepala Q dengan ukiran cintanya, mengukir kebanggaan ini hanya untuknya. Rabbi, maafkan Q melalaikan waktu untuk menyapa ibu di sela kesibukan yang biasa ini." (--Do'a yang Q rintih penuh dengan haru air mata--Tak peduli tangisan Q sekuat apa waktu itu). Nangis sejadi2nya, Q tau airmata tak menjadi kata maaf untuk sebuah kelalaian, tapi cuma itu yang bisa tercurahkan dengan gamblangnya. Setelah materi itu, beberapa teman satu tim Q menanyakan "Ve, kamu kuat banget nangisnya? Emang jauh dari ortu ya?? (Maklum mereka tanya, kan kita baru kenal)". Q pun menjawab "Q disini hanya dengan papa. Merantau untuk kuliah disini adalah pertama kalinya Q merantau dan pergi jauh dari ibu. Q sering bepergian meninggalkan ibu di rumah untuk sebuah kegiatan organisasi, tapi tidak sejauh dan selama Q disini. Dan selama OSPEK Q belum pernah terima telphon atau telphon ibu. Nggak sempatlah rasanya mau lihat HP itu. Jadi tadi ntu teringat kalau terjadi apa2 aja dengan ibu disana".
Itulah sedih Q. Baru menyadari dulu ketika hari2 bersama ibu, Q malah sering nggak betah di rumah. Jadi kalau ada kegiatan di luar rumah seperti perkemahan dan sebagainya Q selalu milih langsung untuk ikut tanpa harus izin terlebih dahulu. Kalau sudah mau pergi baru deh izin. Tapi, sekarang, betapa Q benar2 seperti ibu yang ingin pergi meninggalkan Q untuk mengikuti kegiatan di luar rumah. Q benar2 tau arti CINTA ini untuk KELUARGA. Intropeksi diri, Q sadari hidup adalah perjuangan, dan sekarang Q mulai harus tau yang menjadi tanggung jawab Q. Cinta ini sering dispelekan tapi sangat berarti menata kehidupan.
SERU.....................................................................................................................
Serulah pastinya. Punya tantangan baru dengan lingkungan dan teman2 yang baru. Berbagi pengalaman dan cerita dengan teman2 yang datang dari beberapa daerah di luar Batam menjadi tantangan tersendiri. Terlebih lagi ketika acara Senioritas, dimana acaranya dihadiri oleh senior dari angkatan 1 sampai 8 datang semua untuk melakukan PERKENALAN (padahal PEMBANTAIAN ntu) kepada Mahasiswa baru. Senior benar2 jadi artis waktu itu, kita harus minta tanda tangan ke mereka lah, baju yang kita pake siap2 aja ntu untuk jadi tempat TANDA TANGAN RIA mereka. Ada juga yang dibuatkan yel2 yang lucu tapi memalukan (kalau disadari jadi bahan hiburan juga sih. heheheh). Siap2 lah untuk dimara2hi sama senior, siap jadi kacungnyalah pokoknya. Bagai makan buah SIMALAKAMA, ditentang makin ditendang, dituruti makan hati. Serba salaaahhh!!! Tapi endingnya seru juga lah. Jadi saling kenal dengan senior, apalagi setelah memasuki dunia kampus, jadi enak sharingnya karena sudah kenal. Semua kegiatan mempunyai keseruan tersendirilah tentunya.
BAHAGIA...............................................................................................................
Hari terakhir OSPEK membawa kebahagiaan tersendiri tentunya. Awalnya antara mahasiswa baru dengan senior sangat mempunyai gape dalam berkomunikasi, bahkan sama yang udah kenal atau teman saja dianggap nggak kenal. Sebuah profesionalisme yang terjunjung. Namun, ketika acara ini berakhir, sangat terjadi keakraban diantara kami. Kita semua bersahabat dan bersaudara dalam 1 perguruan tinggi "Politeknik Batam".
Itulah semua rasa yang terukir. Sangat luar biasa berada diantara mereka dan digedung ini (Politeknik Batam). Hari demi hari Q jalani masa OSPEK ini dengan sabar. Suka duka di diri sendiri dan tim di masa OSPEK sangat menuntut kerja sama kami yang berjumlah lebih kurang 20an orang. Berasa mempunyai keluarga baru.
OSPEK pun selesai selama 1 minggu, dan tibalah dihari terakhir OSPEK. Ada BALAS DENDAM ke panitia judulnya. Wah,, kawan2 pada heboh semuanya, benar2 balas dendam sama tindakan panitia. Kawan2 sangat mencari ntu senior yang doyannya coret2 muka dan marah2 sama mahasiswa baru. Kena dech 1 nama itu yang tidak perlu disebutkan namanya. Puas2 dech ka2k itu. Kalau Q balas dendamnya sedapat Q aja panitianya, nampak sikit coretkan aja itu lipstik, hehehhehe.
Selesai acara Balas dendam, kami pun ada acara Dinner bareng panitia. Disitulah waktunya CPCP (Curi Pandang Cari Pacar, hahhahah). Ngobrolin dunia perkuliahan, dunia organisasi sistem manajemen kampus. Banyaklah. Tak jarang juga untuk SKSD (Sistem Kenalan Selama Darurat), maklumlah memanfaatkan situasi dan kondisi. Kan udah nggak ada lagi ntu bahasa senioritas, arena kan udah minta maaf. Selesai makan malam, ada lagi perkara baru. Mulai lagi ntu panitia marah2 nggak jelas, katanya ada diantara kami yang jelek2in nama mereka lah, ngumpat di belakang mereka lah, macam2 lah, dan kami disuruh mengakui siapa orangnya. Ya, kalaupun ada mana ada yang berani ngaku, Pengumpat ngaku, penjara penuh, hahahah. Akhirnya, karena kami yang salah, kami disuruh pejamkan mata dan menundukkan kepala sambil menutup kedua telinga kami dengan kedua tangan, tidak boleh ada mata yang terbuka (Begitulh panitia selama OSPEK kalau kami punya kesalahan atau kalau mereka lagi demen mau marah2 sama kami, selalu harus memejamkan mata sambil menundukkan kepala dan menutup kedua telinga dengan tangan, menyebalkan....) Akhir cerita kalau tidak salah kami ada dipanggil 4 orang yang terdiri dari 2 cowok dan 2 cewek untuk maju kedepan sebagai tersangka, dan apesnya masuklah nama Q sebagai nominasinya. Sumpah!!! Kalut banget perasaan Q waktu itu. Mana ada Q ngumpat di belakang mereka, ngobrol sama teman kalau nggak penting aja nggak akan ngobrol. Huh,, sial banget Q yang harus maju ke depan sebagai salah satu tersangka. Malu bangetlah maju dengan embel2 begituan. Tapi, nggak tau lah, dibilang katanya Q ada fitnah salah satu panitia, ya jelas Q bilang nggak ada bahkan ngakunya sampe pakai "Sumpah, Demi Allah!", beeggghhh,, tapi sayangnya panitia nggak ada yang percaya. Malah dikatain "halah, munafiq kamu pake sumpah2 segala. malu sama jilbab kamu". Q pun diam ajalah sembari di dalam hati mengucap "Astaghfirullah...." Pasrah ajalah Q panitia mau bilang apa. Komentar pun tetap salah di mata mereka. Sesuailah sama "Pasal Senioritas", pasal pertama "SENIOR TIDAK PERNAH SALAH", pasal kedua "JIKA SENIOR SALAH, MAKA KEMBALI KE PASAL PERTAMA", (Cuaapeeekkk dech!!!) Kami yang dipanggil berempat tadi dimarah2lah sepuas2 mereka. Q tidak begitu memperhatikan ketiga teman Q, karena Q hanya menunduk. Q yang dari awal berusaha membela diri atas tuduhan panitia eh,, ternyata tetap salah di mata mereka, akhirnya hanya bisa menangis (dikatain lagi, "kamu mahasiswa apa?? Cengeng banget, airmata buaya. Di depan kami menangis, di belakang kami kamu lancar ngata2in kami"). Ya, ampun Tuhan, airmata tak bisa terbendung lagi. Terserahlah, pasrah!
Akhirnya, setelah banyak cibiran dari panitia datang ke kami (ke empat tersangka) (ketika kami dianiaya cibiran, posisi teman2 masih dengan menundukkan kepala dengan menutup mata dan menutup telinga mereka), kami pun di publish di depan teman2 (mata mereka sudah terbuka) dan salah satu panitia mengatakan "Inilah kandidat teman2 kalian yang aktif dan komunikatif selama OSPEK". Wah, wajah Q yang tadinya masih tersedu2 menangis, langsung oblong grogi tak menentu sembari disambut tepuk tangan kawan2 yang lainnya (ngeri juga ach panitia ini buat skenario acting, coba kalau ada sutrada dan produser ya, udah tenar dech kayaknya, hahahahha). Kemudian salah satu MC tadi menyambung kata2nya "eits,, tapi jangan senang dulu, masih ada 1 langkah lagi yang harus kalian lewati agar terpilih "King & Queen MOM 2008" untuk menjawab pertanyaan dari Presiden Mahasiswa dan perwakilan dari Queen 2007". Hati Q langsung nervous nggak ketolongan. Senang juga bisa masuk "Nominasi King & Queen 2008" (bangga jelas lah karena masuk kesana dinilai dari keaktifan dan komunikatif selama OSPEK berjalan mulai dari debat diskusi, keaktifan mengajukan pertanyaan kepada pembicara dalam sebuah materi seminar dan mengajukan saran dan pendapat dalam sebuah masalah yang dikasih senior atau panitia. Ternilai cukup aktif lah.)
Pengajuan pertanyaan pun dimulai. Sebelum dilakukan sesi tanya jawab, Q mantapkan hati dengan mengucap basmalah, semoga bisa lancar menjawab. Amin (Maklum, terkadang grogi mampu menjangkit, apalagi di depan khalayak umum. halah,, mulai lebai Q ne.. heheheh). Q lupa pertanyaannya apa, Presiden Mahasiswa 1 pertanyaan dan perwakilan Queen 2007 1 pertanyaan. Semua pertanyaan untuk kami sama, tapi jelas kami punya pandangan masing2. Seketika giliran Q yang harus menjawab pertanyaan, dapat nomor urut 3 yang harus segera menjawab. Q pun mulai menjawab dengan kelihaian logika atas pertanyaan yang diberi. Singkat cerita, sesi tanya jawab untuk kami berempat selesai, dan tibalah pengumuman King & Queen MOM 2008.
Sebuah suasana yang tidak disangka dan Q juga tidak mengharapkannya. Alhamdulillah terpilih King MOM 2008 adalah M Asrul Himawan (jurusan Teknik Elektronika) dan Queen MOM 2008 yaitu Q, Ferri Martin (jurusan Teknik Informatika). Bangga, senang dan sangat merasa luar biasa dengan diri Q sendiri karena terpilih lewat seleksi nominasi melalui penilaian kemampuan komunikatif dan pendapat dari diri sendiri, bukan dari ajang pemilihan atau pemungutan suara terbanyak. Akhirnya terpilih sebagai Queen MOM 2008 juga melalui sebuah jawaban yang Q jawab semampu Q, bahkan Q nilai sangat biasa jawaban itu dari ketiga teman Q yang lain. Kembali lagi, rezeki takkan kemana, takkan lari gunung dikejar.
Puji syukur yang tak terhingga Q alunkan dalam hati penuh nada do'a mendapat hadiah ini. Apalagi ketika dipasangkan slempang dan mahkota sederhana itu, betapa ada yang sangat spesial di diri Q. Jawaban2 Q di setiap kegiatan seperti menjadi acuan penilaian panitia. Penuh do'a Q sampaikan ini lewat hati dalam seduan tangisan Q "Papa, bunda, ini hadiah yang Q terima selama 1 minggu mengawali hari2 Q di kampus ini nanti selama 3 tahun. Ini Q persembahkan hanya untuk kalian. Belum bisa lewat materi seperti yang telah kalian urai seumur hidup Q ini. Ini memang tidak semahal perjuangan hati dan materi yang telah diberi, tapi ini hadiah kebanggaan dari Q bahwa Q bangga memiliki kedua orang tua seperti kalian yang terus memberi motivasi dan masukan setiap langkah yang Q pilih. Q tau betapa sangat kerasnya perjuangan kalian ingin melihat Q yang BERKERAS HATI tetap akan kuliah ketika Q lulus SMA, sementara telah Q dengar dari mulut papa bahwa papa tidak bisa menguliahkan Q tahun ini juga (2008, tahun ketika Q lulus SMA) karena kondisi perekonomian yang tidak stabil. Tapi Allah menunjukkan jalan itu, dan inilah puji syukur perjuangan itu Rabbi. Tidak ada perjuangan yang sia2, Q yakin itu. Untuk papa, ini hasil perjuangan papa menemani seminggu Q mengurus semua perlengkapan OSPEK sampai papa tidak tidur. Buat bunda, pulang ini Q akan telphon bunda, Q kangen dan sangat merindukanmu bun. Akan Q ceritakan panjang hari2 sakit, sedih seru dan bahagia Q selama seminggu menjajaki dunia pendidikan baru ini tanpa mengirim atau menerima kabar dari mu. Ini secuil bahagia sederhana yang Q persembahkan hanya untuk kalian pahlawan dan malaikat dunia Q. Ya Allah ucap syukur tertatih dalam do'a Q sembah kehadiratMu. Bangga Q bawa dengan cinta Q sembahkan hanya untuk kalian PAPA & BUNDA Q dan seseorang yang Q tau dia mencintai Q (kala itu Q punya hubungan dengan seseorang, bisa dikatakan pacarlah yang juga terus memberi motivasi kepada Q dan ketika Q melangkah ke Batam Q tau dia menanti Q di Medan). Terima kasih untuk cinta kalian :* ".
OSPEK pun selesai selama 1 minggu dengan suka duka yang luar biasa. Ada pengalaman tersendiri tentunya selama Q mengikuti kegiatan OSPEK ini disini. Pengalaman yang membuat Q semakin dewasa memaknai hidup. Pengalaman yang membuat Q semakin gigih untuk belajar menapaki hidup penuh warna serta pengalaman yang tentunya akan Q jadikan warna sejarah dalam hidup Q kelak. Terima kasih kepada panitia dan senior yang telah membantu membimbing kami menjadi kaum intelektual yang harus menjunjung independensi jiwa mahasiswa yang membela kepentingan rakyat demi menggelar sejarah perjuangan untuk menjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Terima kasih pula kepada civitas kampus Politeknik Batam yang telah memberi fasilitas kemahasiswaan yang luar biasa di kampus ini. Dan terima kasih yang luar biasa untuk teman2 1 angkatan Q "Mahasiswa Politeknik Batam 2008" untuk semua pengalaman yang saling kita bagi selama OSPEK, tentunya
Kamis, 11 April 2013
KOTA PETUALANG SENADA ILMU NAN PENGALAMAN MENJULANG
Minggu, 07 Oktober 2012
Kota Hijrah
Alhamdulillah,,, Q mampu menyelesaikan pendidikan SMA. Walau,, asa tak seindah realita,,, namun keoptimisan yang mengemban diri Q bahwa "AKU PASTI BISA".
Jauh sebelum Q menginjak kelas XII (Kelas 3 SMA),, Q udah ukir mimpi indah untuk kemana Q akan bermusafir pendidikan 'n hal itu udah Q utarakan ke kedua orang tua Q. Berharap Q bisa menembus UMPTN di ITB or UGM. Namun sayang seribu kali sayang, kenyataan tax sepadan dengan impian namun tak juga putus harapan.
Ketika Q sampaikan keinginan Q untuk melanjutkan study ke ITB or UGM (Keinginan keras Q untuk menuju ITB), awalnya kedua orang tua Q sedikit cemas dan menyuruh Q untuk berpikir lebih matang untuk bisa menuju kesana. Karena yang terpintas dipikiran ortu adalah terlalu jauh untuk menempuh perjalanan kesana, kota besar yang sangat tajam dengan "metropolitan" nya. Walau ada keluarga disana tapi tetap aja keluarga Q cemas melepas anak gadis satu2nya (waktu itu,, hehehhe) kesana.
Selang cerita, terlalu indah impian yang Q angankan, semua tak seindah harapan. Ketika selesai UN, ortu menyampaikan hal yang membuat Q sangat2 bersedih. "Fer, maaf kayaknya kamu belum bisa kuliah tahun ini, masalah ekonomi keluarga kita sedang sangat terganggu. Bapak takut nanti terputus di tengah jalan. Bersabarlah... Jika ada rezeki,, kamu nanti pasti akan kuliah. Kamu cari aktifitas yang dapat membantu kamu untuk bisa kuliah juga." Itulah penggalan cerita Papaku kala itu. Q yang memiliki keinginan keras untuk bisa merasakan dunia perkuliahan sangat tidak terima ortu Q punya pemikiran atau menyampaikan hal itu di sela2 semangat Q yang sangat tinggi. Karena bagi Q dimana ada kemauan disana pasti ada jalan. Dengan nada sedih namun membandal Q bantah semuanya. "Ferri nggak mau tau Pa, Ferri yakin pasti bisa kuliah tahun ini. Ferri akan tetap berusaha untuk terus lanjutkan sekolah tahun ini juga, karena takut kalau ditunda untuk kerja nanti impian akan pudar. Fer punya keinginan keras, Insya Allah pasti ada jalan. Mungkin Fer nggak lagi bermimpi untuk bisa kuliah keluar Sumatera,, tapi Fer akan melanjutkan di salah satu Universitas Negeri di Medan aja dulu. Fer akan coba ke Negeri dulu pak, mudah2an Allah beri kesempatan."
Menjelang Q tamat sekolah Papa ditugaskan ke Batam dari perusahaannya. Dengan modal percaya diri yang keras untuk bisa melanjutkan kuliah, Q berjuang sendiri mencari info bagaimana dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri. Q yang punya cita-cita menjadi seorang Guru, mendapat bimbingan dari Wali Kelas Q semasa kelas 3 SMA. Kebetulan beliau lulusan FKIP-UNIMED, dan beliau juga mengajar di PRIMAGAMA. Alhamdulillah diberi jalan oleh beliau untuk masuk ke UNIMED Q dianjurkan untuk kursus di PRIMAGAMA. Singkat cerita, Q kabarkan berita itu ke ortu Q dan Q sedang mempersiapkan untuk mengikuti kursus di PRIMAGAMA Ortu tetap mendukung semua keinginan Q untuk itu. Namun, ketika Q mau mendaftarkan ke PRIMAGAMA, satu berita pun datang menghampiri Q. Tak tau ini berita bahagia atau apa. Berita itu adalah: "Papa dari Batam menelepon Q dan mengabarkan bahwa Q bisa melanjutkan kuliah di Batam. Brosur kampus yang akan dituju akan segera Papa kirimkan".
Itulah kabarnya. Bahagia dengan kabar itu karena Alhamdulillah Q bisa melanjutkan kuliah tepat waktu dan menempuh kemandirian di luar kota. Karena jujur aja mustahil banget Q bisa pergi ke luar kota. untuk pergi ke Kota Medan pun jarang Q tempuh selain masa2 liburan, apalagi harus ke Luar Sumatera Utara ini. Hmmmm,,,,, hehhehe..... Namun, sedih juga harus jauh dari keluarga, terutama meninggalkan ibuku yang baru saja memiliki baby kecil (adikku). Selain itu meninggalkan sahabat2 tercinta dan kala itu Q masih memiliki seseorang yang mencintai & Q cinta selama 4,5 tahun. Huuhh,,, betapa berat.. tapi Q harus bertahan dan nuruti keinginan Q untuk bisa kuliah. Percaya semua 'kan indah pada waktunya.
Seiring berjalannya waktu, Q pun menerima kiriman Brosur kampus yang dikirim Papa untuk Q. tertulis jelas sebuah kampus di brosur itu yang Q sendiri tidak mengetahui latar belakang itu kampus. (Maklum,, belum begitu mengenal dunia maya, jadi nggak pernah kepikiran buat cari informasinya lewat internet... hehehhehe). Dan yang lebih parahnya jurusan yang Q tuju pun tak ada di kampus itu. Bingung harus bagaimana. Satu2nya hanya ortu Q teman berbagi utkpenyelesaian masalah pendidikan.
Tertulis jelas di brosur kampus itu Politeknik Batam (sekarang=Politeknik Negeri Batam) hanya ada 3 jurusan ditingkat Diploma 3 yaitu Teknik Informatika, Teknik elektronika dan Akuntansi. Tak ada yang bisa Q tuju sesuai plan Q ketika lulus. Q INGIN JADI GURU, so Q harus ambil FKIP. Namun sayang, kenyataan tak seindah impian. Hanya ada mereka, Q berpikir sejenak, kalau AKUNTANSI Q sama sekali nggak punya basic, karena Q lulusan jurusan IPA semasa SMA. Kalau TEKNIK ELEKTRONIKA jelas para cowok2 semua yang ada didalamnya (klasik banget ya pemikiran gue?? hahhaha.... Nggak taunya lumayan jugalah cewek2 Elektronika di Angkatan gue.. heheheheh). Finally, setelah berdiskusi dengan ortu terutama Papa Q, Q pun memutuskan mengambil jurusan TEKNIK INFORMATIKA. Kata Papa Q kan punya basic disitu karena udah sering ambil kursus komputer. Yo,, weslah,,, manut dese' kambe ortu... ehhehehehe... Ridha ortu Insya Allah selalu penuh barokah 'n do'a. Amin.... ^_^
Formulir itu pun Q isi sesuai pengisiannya, kemudian Q kirim ke boz Papa yang akan kembali lagi ke Batam. Lagi..,,, lagi,,, Papa dan boznya yang mengurus semuanya di Batam, karena waktu itu Q masih di Medan. Merekalah yang mengurus pendaftaran Q di Batam. Sampai ujian masuk pun tiba. Dua minggu sebelum ujian datang, Papa kembali ke Medan untuk menjemput anaknya paling cantik ne untuk dimutasikan ke Batam (wkwkwkwkwk). Papa dirumah hanya sebentar, 'n akhirnya kami pun berangkat ke Batam.
Malam hari sebelum keberangkatan Q berpamitan dengan kawan2 'n sahabat2 terdekat Q dikampuang tercinto. Mereka sangat tidak menginginkan Q pergi sejauh ini. Persahabatan yang cukup komplit diantara kami. Sari teman seperjuangan Q mengasuh adik2 santri (malam terakhir Q wirid bersama mereka Q juga izin kepada adik2 Santri binaan Q dengan Sahabat Q Sari, kakak sukses disana dan jangan lupakan kami ya kk?? Itulah pesan salah satu adik Santri Q). Sari juga teman Perwiritan remaja Q. Kiki teman Perjalan jauh Q kalau wisata (ne orang demen banget klu diajak jalan2,, hehehe.....). Terlepas dari itu semua yang pasti kesedihan ada diantara kami. Rindu Kebersamaan akan Persabatan ini <3 <3 <3 ^_^
Hari H pun telah tiba................ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~>
Hal yang tak pernah terbayangkan sama sekali dalam hidup Q. Kesedihan menyelimuti keberangkatan Q 'n Papa. Mungkin Ibu sudah biasa ditinggal Papa karena Papa emang sudah sering bolak-balik keluar masuk Medan untuk urusan pekerjaan. Tapi, Q??? Baru kali ini akan terasa sangat jauh dengan jarak dari Ibu. Q emang sering bepergian jauh2 'n bahkan sampai menginap untuk urusan organisasi,, tapi beneran inilah yang sangat jauh 'n kepastian untuk sering ketemu Ibu dan keluarga atau PULKAM tidak pernah akan bisa dipastikan kapan. Q cuma bisa bilang ke Ibu, "Bu,, apa Fer beneran bisa betah tinggal disana???" Dengan nada sok menguatkan diri Ibu 'n meyakinkan Q Ibu berkata "baik-baik disana. Fokuskan apa yang menjadi tujuan. Ini kan semua keinginan Fer untuk bisa tetap sekolah. Satu pesan Ibu, jangan macam-macam disana, tetap hati-hati dan jangan pernah tinggalkan shalat untuk menjaga diri kita". Q cuma bisa berderai airmata :'(. ~~~~~~~~~~ dan kami pun berangkat dari rumah menuju Bandara dengan Taxi.
Sepanjang perjalanan,, Q hanya bisa terdiam sembari memikirkan keadaan yang bener2 dipisahkan oleh jarak yang jauh dari keluarga terutama Ibu dan adik kecil Q. Bakalan jarang buat ketemu karena bukan sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk biaya PP selama pulkam. Hmmmmm.... Entahlah... Q cuma bisa menguatkan diri AKU PASTI BISA.
Dalam lamunan Q pun, Papa sering mengusik,, "kenapa koq diam??? Pusing ya??? Mau mabuk???" (mabuk=mual dalam mobil perjalanan jauh, maklum dulu itu penyakit Q setiap perjalanan jauh. tapi nggak untuk sekarang. Kecuali kalau mau perjalanan jauh belum makan alias belum masukin nasi ke dalam perut,, atau ada bau2 yang aneh di dalam mobil,, mau dech ntu kambuh si mabuknya... ckckckckck). Jelas Q bilang: "nggak koq Pa..." Maklumlah perjalanan dari tempat tinggal Q ke Bandara sekitar 4.5 Jam (dekat banget ya?? Maklum Sumatera Utara itu bukan Provinsi kecil. hahahhahaha )
Singkat cerita,, kami pun telah tiba di Bandara Internasional Polonia, Medan. Untuk kali pertamanya Q naik pesawat ne. Grogi ataupun degdegan nggak ada sih,, cuma masih bingung z,,, (belagak culun W... hahahha....) Kalau Papa sih gampang,, karena udah di check in kan dengan orang boz Papa di Bandara. Tinggal masuk z. Akhirnya,, tibalah kami di Ruang Tunggu. Papa ngeledekin Q lagi "takut nggak ntr naik pesawat??" Papa sambil ngelawak nyeritain orang dulu ketika satu maskapai dengan beliau,, agak aneh sih + lucu juga. Q pun jawab dengan spontan""nggak lah,, ngapain harus takut. kalau ntar nervous,, tiduran z,, biar tiba2 udah nyampe Batam. Hahahahhha"
Pemanggilan jadwal penerbangan kami pun tiba. Q dan Papa pun langsung menuju ke pesawat. Selang beberapa menit, pesawat kami pun berangkat. Ternyata,, naik pesawat tidak sepanik yang Q pikirkan. Biasa aja pun (Belagak kali Q ne ya?? hahahahah) Tapi iya koq, nggak ada sepanik yang Q pikirkan. Rasanya sama aja kayak naik kereta api. Q pun sampai tertidur pulas disana. Hampir landing di Batam Q pun terbangun. Dan selang beberapa waktu kami pun tiba di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam. Alhamdulillah..... *_*
Alhamdulillah telah tiba disini. Selanjutnya,, tinggal perjalanan dari Bandara ke rumah z. Kami pun dijemput oleh supir boz Papa. Pertengah jalan beli makan untuk makan siang. 'n langsung menuju ke rumah.
BUNDA....................... INILAH BATAM................ FER SUDAH TIBA DISINI....... DAN AKAN MEMULAI PERJUANGAN ITU.................. BISMILLAH........................... ^_^ *_* ^_^ *_* ^_^ *_*
Ketika Q sampaikan keinginan Q untuk melanjutkan study ke ITB or UGM (Keinginan keras Q untuk menuju ITB), awalnya kedua orang tua Q sedikit cemas dan menyuruh Q untuk berpikir lebih matang untuk bisa menuju kesana. Karena yang terpintas dipikiran ortu adalah terlalu jauh untuk menempuh perjalanan kesana, kota besar yang sangat tajam dengan "metropolitan" nya. Walau ada keluarga disana tapi tetap aja keluarga Q cemas melepas anak gadis satu2nya (waktu itu,, hehehhe) kesana.
Selang cerita, terlalu indah impian yang Q angankan, semua tak seindah harapan. Ketika selesai UN, ortu menyampaikan hal yang membuat Q sangat2 bersedih. "Fer, maaf kayaknya kamu belum bisa kuliah tahun ini, masalah ekonomi keluarga kita sedang sangat terganggu. Bapak takut nanti terputus di tengah jalan. Bersabarlah... Jika ada rezeki,, kamu nanti pasti akan kuliah. Kamu cari aktifitas yang dapat membantu kamu untuk bisa kuliah juga." Itulah penggalan cerita Papaku kala itu. Q yang memiliki keinginan keras untuk bisa merasakan dunia perkuliahan sangat tidak terima ortu Q punya pemikiran atau menyampaikan hal itu di sela2 semangat Q yang sangat tinggi. Karena bagi Q dimana ada kemauan disana pasti ada jalan. Dengan nada sedih namun membandal Q bantah semuanya. "Ferri nggak mau tau Pa, Ferri yakin pasti bisa kuliah tahun ini. Ferri akan tetap berusaha untuk terus lanjutkan sekolah tahun ini juga, karena takut kalau ditunda untuk kerja nanti impian akan pudar. Fer punya keinginan keras, Insya Allah pasti ada jalan. Mungkin Fer nggak lagi bermimpi untuk bisa kuliah keluar Sumatera,, tapi Fer akan melanjutkan di salah satu Universitas Negeri di Medan aja dulu. Fer akan coba ke Negeri dulu pak, mudah2an Allah beri kesempatan."
Menjelang Q tamat sekolah Papa ditugaskan ke Batam dari perusahaannya. Dengan modal percaya diri yang keras untuk bisa melanjutkan kuliah, Q berjuang sendiri mencari info bagaimana dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri. Q yang punya cita-cita menjadi seorang Guru, mendapat bimbingan dari Wali Kelas Q semasa kelas 3 SMA. Kebetulan beliau lulusan FKIP-UNIMED, dan beliau juga mengajar di PRIMAGAMA. Alhamdulillah diberi jalan oleh beliau untuk masuk ke UNIMED Q dianjurkan untuk kursus di PRIMAGAMA. Singkat cerita, Q kabarkan berita itu ke ortu Q dan Q sedang mempersiapkan untuk mengikuti kursus di PRIMAGAMA Ortu tetap mendukung semua keinginan Q untuk itu. Namun, ketika Q mau mendaftarkan ke PRIMAGAMA, satu berita pun datang menghampiri Q. Tak tau ini berita bahagia atau apa. Berita itu adalah: "Papa dari Batam menelepon Q dan mengabarkan bahwa Q bisa melanjutkan kuliah di Batam. Brosur kampus yang akan dituju akan segera Papa kirimkan".
Itulah kabarnya. Bahagia dengan kabar itu karena Alhamdulillah Q bisa melanjutkan kuliah tepat waktu dan menempuh kemandirian di luar kota. Karena jujur aja mustahil banget Q bisa pergi ke luar kota. untuk pergi ke Kota Medan pun jarang Q tempuh selain masa2 liburan, apalagi harus ke Luar Sumatera Utara ini. Hmmmm,,,,, hehhehe..... Namun, sedih juga harus jauh dari keluarga, terutama meninggalkan ibuku yang baru saja memiliki baby kecil (adikku). Selain itu meninggalkan sahabat2 tercinta dan kala itu Q masih memiliki seseorang yang mencintai & Q cinta selama 4,5 tahun. Huuhh,,, betapa berat.. tapi Q harus bertahan dan nuruti keinginan Q untuk bisa kuliah. Percaya semua 'kan indah pada waktunya.
Seiring berjalannya waktu, Q pun menerima kiriman Brosur kampus yang dikirim Papa untuk Q. tertulis jelas sebuah kampus di brosur itu yang Q sendiri tidak mengetahui latar belakang itu kampus. (Maklum,, belum begitu mengenal dunia maya, jadi nggak pernah kepikiran buat cari informasinya lewat internet... hehehhehe). Dan yang lebih parahnya jurusan yang Q tuju pun tak ada di kampus itu. Bingung harus bagaimana. Satu2nya hanya ortu Q teman berbagi utkpenyelesaian masalah pendidikan.
Tertulis jelas di brosur kampus itu Politeknik Batam (sekarang=Politeknik Negeri Batam) hanya ada 3 jurusan ditingkat Diploma 3 yaitu Teknik Informatika, Teknik elektronika dan Akuntansi. Tak ada yang bisa Q tuju sesuai plan Q ketika lulus. Q INGIN JADI GURU, so Q harus ambil FKIP. Namun sayang, kenyataan tak seindah impian. Hanya ada mereka, Q berpikir sejenak, kalau AKUNTANSI Q sama sekali nggak punya basic, karena Q lulusan jurusan IPA semasa SMA. Kalau TEKNIK ELEKTRONIKA jelas para cowok2 semua yang ada didalamnya (klasik banget ya pemikiran gue?? hahhaha.... Nggak taunya lumayan jugalah cewek2 Elektronika di Angkatan gue.. heheheheh). Finally, setelah berdiskusi dengan ortu terutama Papa Q, Q pun memutuskan mengambil jurusan TEKNIK INFORMATIKA. Kata Papa Q kan punya basic disitu karena udah sering ambil kursus komputer. Yo,, weslah,,, manut dese' kambe ortu... ehhehehehe... Ridha ortu Insya Allah selalu penuh barokah 'n do'a. Amin.... ^_^
Formulir itu pun Q isi sesuai pengisiannya, kemudian Q kirim ke boz Papa yang akan kembali lagi ke Batam. Lagi..,,, lagi,,, Papa dan boznya yang mengurus semuanya di Batam, karena waktu itu Q masih di Medan. Merekalah yang mengurus pendaftaran Q di Batam. Sampai ujian masuk pun tiba. Dua minggu sebelum ujian datang, Papa kembali ke Medan untuk menjemput anaknya paling cantik ne untuk dimutasikan ke Batam (wkwkwkwkwk). Papa dirumah hanya sebentar, 'n akhirnya kami pun berangkat ke Batam.
Malam hari sebelum keberangkatan Q berpamitan dengan kawan2 'n sahabat2 terdekat Q dikampuang tercinto. Mereka sangat tidak menginginkan Q pergi sejauh ini. Persahabatan yang cukup komplit diantara kami. Sari teman seperjuangan Q mengasuh adik2 santri (malam terakhir Q wirid bersama mereka Q juga izin kepada adik2 Santri binaan Q dengan Sahabat Q Sari, kakak sukses disana dan jangan lupakan kami ya kk?? Itulah pesan salah satu adik Santri Q). Sari juga teman Perwiritan remaja Q. Kiki teman Perjalan jauh Q kalau wisata (ne orang demen banget klu diajak jalan2,, hehehe.....). Terlepas dari itu semua yang pasti kesedihan ada diantara kami. Rindu Kebersamaan akan Persabatan ini <3 <3 <3 ^_^
Hari H pun telah tiba................ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~>
Hal yang tak pernah terbayangkan sama sekali dalam hidup Q. Kesedihan menyelimuti keberangkatan Q 'n Papa. Mungkin Ibu sudah biasa ditinggal Papa karena Papa emang sudah sering bolak-balik keluar masuk Medan untuk urusan pekerjaan. Tapi, Q??? Baru kali ini akan terasa sangat jauh dengan jarak dari Ibu. Q emang sering bepergian jauh2 'n bahkan sampai menginap untuk urusan organisasi,, tapi beneran inilah yang sangat jauh 'n kepastian untuk sering ketemu Ibu dan keluarga atau PULKAM tidak pernah akan bisa dipastikan kapan. Q cuma bisa bilang ke Ibu, "Bu,, apa Fer beneran bisa betah tinggal disana???" Dengan nada sok menguatkan diri Ibu 'n meyakinkan Q Ibu berkata "baik-baik disana. Fokuskan apa yang menjadi tujuan. Ini kan semua keinginan Fer untuk bisa tetap sekolah. Satu pesan Ibu, jangan macam-macam disana, tetap hati-hati dan jangan pernah tinggalkan shalat untuk menjaga diri kita". Q cuma bisa berderai airmata :'(. ~~~~~~~~~~ dan kami pun berangkat dari rumah menuju Bandara dengan Taxi.
Sepanjang perjalanan,, Q hanya bisa terdiam sembari memikirkan keadaan yang bener2 dipisahkan oleh jarak yang jauh dari keluarga terutama Ibu dan adik kecil Q. Bakalan jarang buat ketemu karena bukan sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk biaya PP selama pulkam. Hmmmmm.... Entahlah... Q cuma bisa menguatkan diri AKU PASTI BISA.
Dalam lamunan Q pun, Papa sering mengusik,, "kenapa koq diam??? Pusing ya??? Mau mabuk???" (mabuk=mual dalam mobil perjalanan jauh, maklum dulu itu penyakit Q setiap perjalanan jauh. tapi nggak untuk sekarang. Kecuali kalau mau perjalanan jauh belum makan alias belum masukin nasi ke dalam perut,, atau ada bau2 yang aneh di dalam mobil,, mau dech ntu kambuh si mabuknya... ckckckckck). Jelas Q bilang: "nggak koq Pa..." Maklumlah perjalanan dari tempat tinggal Q ke Bandara sekitar 4.5 Jam (dekat banget ya?? Maklum Sumatera Utara itu bukan Provinsi kecil. hahahhahaha )
Singkat cerita,, kami pun telah tiba di Bandara Internasional Polonia, Medan. Untuk kali pertamanya Q naik pesawat ne. Grogi ataupun degdegan nggak ada sih,, cuma masih bingung z,,, (belagak culun W... hahahha....) Kalau Papa sih gampang,, karena udah di check in kan dengan orang boz Papa di Bandara. Tinggal masuk z. Akhirnya,, tibalah kami di Ruang Tunggu. Papa ngeledekin Q lagi "takut nggak ntr naik pesawat??" Papa sambil ngelawak nyeritain orang dulu ketika satu maskapai dengan beliau,, agak aneh sih + lucu juga. Q pun jawab dengan spontan""nggak lah,, ngapain harus takut. kalau ntar nervous,, tiduran z,, biar tiba2 udah nyampe Batam. Hahahahhha"
Pemanggilan jadwal penerbangan kami pun tiba. Q dan Papa pun langsung menuju ke pesawat. Selang beberapa menit, pesawat kami pun berangkat. Ternyata,, naik pesawat tidak sepanik yang Q pikirkan. Biasa aja pun (Belagak kali Q ne ya?? hahahahah) Tapi iya koq, nggak ada sepanik yang Q pikirkan. Rasanya sama aja kayak naik kereta api. Q pun sampai tertidur pulas disana. Hampir landing di Batam Q pun terbangun. Dan selang beberapa waktu kami pun tiba di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam. Alhamdulillah..... *_*
Alhamdulillah telah tiba disini. Selanjutnya,, tinggal perjalanan dari Bandara ke rumah z. Kami pun dijemput oleh supir boz Papa. Pertengah jalan beli makan untuk makan siang. 'n langsung menuju ke rumah.
BUNDA....................... INILAH BATAM................ FER SUDAH TIBA DISINI....... DAN AKAN MEMULAI PERJUANGAN ITU.................. BISMILLAH........................... ^_^ *_* ^_^ *_* ^_^ *_*
Senin, 11 Juni 2012
Menempuh Pendidikan S3 Q
Mulai cerita kembali.....
Q yang hidup dari keluarga sederhana tidak pernah takut untuk bermimpi setinggi-tingginya. Karena menurut prinsip Q hidup akan tetap berjalan berwujud dengan mimpi itu selama usaha juga mampu menyeimbanginya. Itulah yang membuat Q tidak pernah takut untuk bermimpi tinggi dengan cita-cita Q. Apa pun hasilnya tetap harus mampu dimaknai 'n dihargai,, tidak perlu disesali ataupun ditangisi,,, karena inilah HIDUP... Tak selamanya berjalan mengalir bak air,, namun tak pula beku seperti batu...
(Hehhehe... Sok ngerti yaa Q ne...)
Q mulai pendidikan dari tingkat SD. Tidak pernah merasai dunia pendidikan di tingkat PlayGroup atau TK. Tapi itu semua tidak pernah mengurangi kreatifitas Q di dunia anak-anak. Hehehhe
Q sekolah di tingkat Ibtidaiyah ( sebut saja MIS. ISLAMIYAH). Sekolah dasar di Kabupaten Asahan-SUMUT yang tidak jauh dari tempat tinggal Q. Berangkat selalu diantar jemput ibu dengan sepeda kecilnya (Memiliki sepeda disana dulu udah anugerah yang luar biasa).
Seiring waktu berjalan, cobaan tak ingin jauh dari hidup Q. Tepat Q duduk di kelas 2 SD musibah menimpa Q dengan Q ditabrak sebuah truk tanki yang membawa minyak. Berawal dari pulang sekolah Q bersama teman akrab Q "Fadli". Dia anak guru ngaji Q. Kami emang selalu pulang bersama kalau ibu nggak jemput. Singkat cerita, ketika di depan sekolah ingin menyebrang jalan, Q lihat di arah kanan tidak ada kendaraan, namun sayang arah kiri Q tak perhatikan. Karena Q lihat Fadli sudah menyeberang 'n Q pun ikut dia menyeberang. Tapi, tak begitu memperhatikan jalan, dari arah kiri ada truk tanki yang melintas. Fadli yang dibelakangku sempat mundur balik ke belakang tapi Q tak mampu. 'n musibah itu terjadi. Q berada di bawah kolong tanki. Semua pasti khawatir 'n suasana ramai. Q pun dilarikan ke RS terdekat. Beberapa hari dirawat, dan setelah dilakukan ronsen, alhamdulillah tidak ada hal yang serius terjadi pada Q walaupun dipergelangan tangan Q masih membekas cap lika liku ban truk itu. (Hal itu yang membuat ortu sangat takut sekali terjadi hal yang serius dengan Q). Ending cerita Q mampu menyelesaikan pendidikan SD Q dengan tepat waktu. Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.....
Tak begitu susah untuk melanjutkan ke pendidikan selanjutnya. Ortu berharap Q tetap melanjutkan sekolah di yayasan yang sama dengan SD Q. Tapi Q memaksa ortu untuk Q bisa masuk ke Sekolah Negeri. Awalnya ortu keberatan karena Sekolah Negeri yang Q tuju agak jauh dari rumah. Harus naik angkot yang membuat ortu merasa cemas. Tapi,, setelah mendengar curhat Q, ortu memperbolehkan Q mencoba masuk ke Sekolah Negeri. 'n Q coba. Dulu mau masuk ke Sekolah Negeri memiliki nilai minimal untuk masuk Sekolah Negeri yang diambil dari NEM (Nilai Ebtanas Murni). Nasib mujur tidak berpihak di Q. NEM Q tidak mampu menembus Sekolah Negeri yang Q tuju. Hanya kurang 0,4 saja. Miriiisss sekali... Hiks.. :'(
Alhasil,, Q harus kembali ke sekolah yang diinginkan ortu dari awal. 'n dengan berat hati Q harus membayar biaya pendaftaran seperti siswa lain. (Seharusnya nggak jika Q ketika lulus dari SD langsung melanjutkan disana. Tapi karena Q mencoba ingin mendaftar ke sekolah lain yaa,,, harus bayar dah... HJahahahah... Hiks.. :'( ). Pendidikan di tingkat ini pun Q mampu capai dengan target tepat waktu walau banyak cobaan juga dari internal pribadi 'n keluarga. Salah satunya, ketika kelas 1 semester akhir itu adalah pertama kali Q mendapatkan peringkat 1. Senaaaangggg bangeettt,,, tapi Q tidak bisa menikmatinya dengan hati gembira bersama keluarga karena papa Q saat itu sedang dirawat di RS karena lagi dioperasi matanya. 'n kesehatan Q pun tidak begitu pulih karena pada hari itu penyakit cacar menyerang Q. Ibu tidak mengijinkan Q pergi ke sekolah (karena kalau penyakit cacar itu katanya tidak boleh banyak kena angin atau air). Nah,, pada hari itu hujan. Tapi, Q nekat tetap untuk berangkat ke sekolah. Wali kelas Q pun aneh melihat ekspresi Q yang beliau pikir Q nggak bahagia mendapatkan peringkat ini. tapi Q juga bingung ingin mengekspresikan kebahagaiian betapa gembiranya Q mendapatkan peringkat itu dengan melihat keadaan Q yang begitu lemah 'n memikirkan keadaan Papa Q. Hmmmm.....
Tetap syukur alhamdulillah mengecap semuanya...
Masa SMP pun telah berlalu. 'n Q ingin melangkah ke Putih Abu-Abu. Hehhehh....
Seiring waktu berjalan, cobaan tak ingin jauh dari hidup Q. Tepat Q duduk di kelas 2 SD musibah menimpa Q dengan Q ditabrak sebuah truk tanki yang membawa minyak. Berawal dari pulang sekolah Q bersama teman akrab Q "Fadli". Dia anak guru ngaji Q. Kami emang selalu pulang bersama kalau ibu nggak jemput. Singkat cerita, ketika di depan sekolah ingin menyebrang jalan, Q lihat di arah kanan tidak ada kendaraan, namun sayang arah kiri Q tak perhatikan. Karena Q lihat Fadli sudah menyeberang 'n Q pun ikut dia menyeberang. Tapi, tak begitu memperhatikan jalan, dari arah kiri ada truk tanki yang melintas. Fadli yang dibelakangku sempat mundur balik ke belakang tapi Q tak mampu. 'n musibah itu terjadi. Q berada di bawah kolong tanki. Semua pasti khawatir 'n suasana ramai. Q pun dilarikan ke RS terdekat. Beberapa hari dirawat, dan setelah dilakukan ronsen, alhamdulillah tidak ada hal yang serius terjadi pada Q walaupun dipergelangan tangan Q masih membekas cap lika liku ban truk itu. (Hal itu yang membuat ortu sangat takut sekali terjadi hal yang serius dengan Q). Ending cerita Q mampu menyelesaikan pendidikan SD Q dengan tepat waktu. Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.....
Tak begitu susah untuk melanjutkan ke pendidikan selanjutnya. Ortu berharap Q tetap melanjutkan sekolah di yayasan yang sama dengan SD Q. Tapi Q memaksa ortu untuk Q bisa masuk ke Sekolah Negeri. Awalnya ortu keberatan karena Sekolah Negeri yang Q tuju agak jauh dari rumah. Harus naik angkot yang membuat ortu merasa cemas. Tapi,, setelah mendengar curhat Q, ortu memperbolehkan Q mencoba masuk ke Sekolah Negeri. 'n Q coba. Dulu mau masuk ke Sekolah Negeri memiliki nilai minimal untuk masuk Sekolah Negeri yang diambil dari NEM (Nilai Ebtanas Murni). Nasib mujur tidak berpihak di Q. NEM Q tidak mampu menembus Sekolah Negeri yang Q tuju. Hanya kurang 0,4 saja. Miriiisss sekali... Hiks.. :'(
Alhasil,, Q harus kembali ke sekolah yang diinginkan ortu dari awal. 'n dengan berat hati Q harus membayar biaya pendaftaran seperti siswa lain. (Seharusnya nggak jika Q ketika lulus dari SD langsung melanjutkan disana. Tapi karena Q mencoba ingin mendaftar ke sekolah lain yaa,,, harus bayar dah... HJahahahah... Hiks.. :'( ). Pendidikan di tingkat ini pun Q mampu capai dengan target tepat waktu walau banyak cobaan juga dari internal pribadi 'n keluarga. Salah satunya, ketika kelas 1 semester akhir itu adalah pertama kali Q mendapatkan peringkat 1. Senaaaangggg bangeettt,,, tapi Q tidak bisa menikmatinya dengan hati gembira bersama keluarga karena papa Q saat itu sedang dirawat di RS karena lagi dioperasi matanya. 'n kesehatan Q pun tidak begitu pulih karena pada hari itu penyakit cacar menyerang Q. Ibu tidak mengijinkan Q pergi ke sekolah (karena kalau penyakit cacar itu katanya tidak boleh banyak kena angin atau air). Nah,, pada hari itu hujan. Tapi, Q nekat tetap untuk berangkat ke sekolah. Wali kelas Q pun aneh melihat ekspresi Q yang beliau pikir Q nggak bahagia mendapatkan peringkat ini. tapi Q juga bingung ingin mengekspresikan kebahagaiian betapa gembiranya Q mendapatkan peringkat itu dengan melihat keadaan Q yang begitu lemah 'n memikirkan keadaan Papa Q. Hmmmm.....
Tetap syukur alhamdulillah mengecap semuanya...
Masa SMP pun telah berlalu. 'n Q ingin melangkah ke Putih Abu-Abu. Hehhehh....
Sedikit berat dengan situasi disini,,, karena Papa harus merantau ke Negeri Jiran melanjutkan kerja disana. Sementara jauh2 hari Q udah sampaikan bahwa ketika Q lulus nanti Q ingin merantau ke Kota Medan melanjutkan SMA disana. 'n ortu udah sepakat mengizinkan Q, karena Q emang pengen belajar hidup mandiri jauh dari ortu 'n ortu emang pengen mengajarkan itu pada anak2nya. Tapi,, karena tiba2 keadaan perekonomian perusahaan Papa kerja yang tidak stabil 'n Papa harus berangkat ke Malaysia, Q tidak diizinkan hijrah ke Kota Medan karena ibu akan sendiri di rumah (karena kemaren tidak pernah menduga akan punya adik baru, jadi nggak tega ibu tinggal sendiri dengan adik cowok yang sering main keluar). Yaaa,,, mau nggak mau Q lanjutkan sekolah Q di yayasan yang sama (So, 12 tahun Q di Yayasan Perguruan Islamiyah Hessa Air Genting,, **MIS **MTs 'n **MAS --Pada tau kan kepanjangannya???--hehehehhe)
Aktifitas belajar mengajar pun Q lalui dengan baik. Walau sejak Q SMA, Q tidak lagi seenak seperti masa2 sebelumnya. Terlepas kondisi perekonomian keluarga juga yang mungkin emang harus tersadari *Tak selamanya sesuatu itu berada di atas atau bahkan di bawah*
'n banyak pelajaran kemandirian yang Q pelajari ketika semua ini ada di pihak keluarga Q. Sakit tapi berharga, mungkin begitu Q memaknainya. SMA menjadi ajang kebut2an prestasi untuk Q. Dalam benak Q, sangat Q benci diri Q jika Q tidak mampu menyabet peringkat 3 besar. Alhamdulillah,, pola belajar yang Q atur sebaik mungkin dari sebelumnya 'n dukungan keluarga yang selalu mengingatkan 'n membantu Q dalam pendidikan Q di SMA Q selalu meraih peringkat 2 dalam waktu 3 tahun 'n 6 semester. Tidak pernah turun dari peringkat 2, namun pernah 1 semester Q naik di perigkat 1. Hanya Q 'n teman Q Azhar Azmi yang kami selalu punya peredaran rebut2an peringakat di 1 atau 2. Hahahahahah.... (Seru persaingan belajar itu membuat Q tetap selalu ingin belajar keras... Hehheheh)
Aktifitas belajar mengajar pun Q lalui dengan baik. Walau sejak Q SMA, Q tidak lagi seenak seperti masa2 sebelumnya. Terlepas kondisi perekonomian keluarga juga yang mungkin emang harus tersadari *Tak selamanya sesuatu itu berada di atas atau bahkan di bawah*
'n banyak pelajaran kemandirian yang Q pelajari ketika semua ini ada di pihak keluarga Q. Sakit tapi berharga, mungkin begitu Q memaknainya. SMA menjadi ajang kebut2an prestasi untuk Q. Dalam benak Q, sangat Q benci diri Q jika Q tidak mampu menyabet peringkat 3 besar. Alhamdulillah,, pola belajar yang Q atur sebaik mungkin dari sebelumnya 'n dukungan keluarga yang selalu mengingatkan 'n membantu Q dalam pendidikan Q di SMA Q selalu meraih peringkat 2 dalam waktu 3 tahun 'n 6 semester. Tidak pernah turun dari peringkat 2, namun pernah 1 semester Q naik di perigkat 1. Hanya Q 'n teman Q Azhar Azmi yang kami selalu punya peredaran rebut2an peringakat di 1 atau 2. Hahahahahah.... (Seru persaingan belajar itu membuat Q tetap selalu ingin belajar keras... Hehheheh)
Hari berlalu... Waktu pun berjalan.... Tak tersadari Q mulai remaja... Pendidikan tersadari sudah tertunaikan 12 tahun. Syukur Alhamdulillah yang mampu terluahkan. Semua tertunaikan tepat waktu 'n mampu meraih minimal sekolah yang diharapkan ortu Q.
Tapi,, disela2 sekolah,, Q tidak hanya fokus di dalam dunia belajar mengajar saja. Karena Q sangat suka berorganisasi sejak Q SD di kelas 6 sampai selesai SMA, Q mengikuti kegiatan Ex School yaitu PRAMUKA 'n kegiatan tertinggi yang bertahap Q mampu ikuti dengan baik 'n Q Alhamdulillah mampu menyelesaikan sampai ke tingkat Penegak. Kegiatan bertahap yang penuh perjuangan dan persaingan ketat yang Q mampu jalani dengan baik adalah RAIRAN (Raimuna Ranting=tingkat Kecamatan-Air Batu), RAICAB (Raimuna Cabang=tingkat Kabupaten-Asahan) dan RAIDA (Raimuna Daerah=tingkat Provinsi-Sumatera Utara) (RAIMUNA=*pertemuan pramuka tingkat penegak *).
Sebenarnya ada 1 tahap lagi yaitu RAINAS (Raimuna Nasional=tingkat Nasional-Indonesia). 'n jika Q berjuang ada kemungkinan kesempatan bisa berangkat mengikutinya. Pelaksanaanya di Cibubur, Jawa Barat. Tapi sayang seribu kali sayang, kala itu selesai mengikuti RAIDA, Ujian Nasional (UN) telah menanti di depan mata. 'n tentu pihak sekolah tidak mengizinkan murid tingkat akhir untuk mengikuti Ex School lagi. 'n Q putuskan untuk fokus menghadapi UN. Mungkin cukup banyak rintangan, hambatan bahkan tantangan di tingkat daerah aja yang Q hadapi (apalagi kalau tingkat nasional yaaa???). Keseruan punya banyak teman dari kabupaten2 yang lain. Yang tak kalah seru tentu ilmu juga jadi banyak share dengan kawan2. Mungkin itu udah lebih dari cukup. Selebihnya, mungkin harus terhenti karena UN lebih penting menurut Q.
Selain Pramuka, Q juga aktif di Kelompok DrumBand di Sekolah. Mulai pertama ada DrumBand di sekolah Q duduk dikelas 2 SMA (Kalau Q nggak salah yaa.. heheheh). Prestasi di DrumBand paling yaaachh kalau tampil di Upacara Kecamatan kalau Hari Kemerdekaan. Heheheheh...
Inilah cerita indah semasa sekolah menempuh S3 selama 12 tahun. Bukan untuk mengejar gelar para jabater (singkatan jadul ne....) tapi demi realisasi pendidikan seutuhnya SD, SMP dan SMA. Hahahhaha....
Untuk menuju step selanjutnya nanti akan kita sambung di session judul selanjutnya yaa....
Wait it.... :) :) :)
Rabu, 30 Maret 2011
Q Bersama Keluarga...
Keluarga Q merupakan keluarga yang sederhana. Hidup kami biasa-biasa saja. Tidak berlebihan namun juga tak kekurangan. Setiap rezeki yang menghampiri, selalu kami syukuri. Itu pelajaran yang selalu disampaikan oleh Ayah Q untuk anak-anaknya. Pesan orang tua Q yang selalu Q ingat untuk anak-anaknya adalah "Janganlah menjadi orang yang berlebihan, karena ketika kekurangan menghampiri maka kerisauan akan datang menjangkiti kehidupan. Maka belajarlah menjadi orang kekurangan, sehingga ketika kelebihan menghampiri tidak risau menghadapi hidup". Itulah Ayah Q. Penuh kesederhanaan dan bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya.
Q adalah anak ke dua dari empat bersaudara. satu-satunya yang sekarang sedang dalam masa pendidikan hanya Q. Sekarang Q sedang menempuh program D3 (Diploma 3) jurusan Teknik Informatika di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Batam, Politeknik Negeri Batam (Awal Q masuk, Politeknik ini masih swasta *Politeknik Batam*, namun Alhamdulillah tahun 2010 Politeknik sudah negeri dan berganti menjadi *Politeknik Negeri Batam*).
Q adalah anak ke dua dari empat bersaudara. satu-satunya yang sekarang sedang dalam masa pendidikan hanya Q. Sekarang Q sedang menempuh program D3 (Diploma 3) jurusan Teknik Informatika di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Batam, Politeknik Negeri Batam (Awal Q masuk, Politeknik ini masih swasta *Politeknik Batam*, namun Alhamdulillah tahun 2010 Politeknik sudah negeri dan berganti menjadi *Politeknik Negeri Batam*).
Abang Q sulung (anak pertama), yang diharapkan keluarga Q dapat menjadi panutan untuk adik-adiknya justru faktanya jauh dari harapan. Dia sangat bandal. Hmm,,,, banyak sekali kebandalan yang telah dibuat. Kata orang: "maklumlah, anak cowok". Dia hanya mampu melanjutkan pendidikan sampe SMP saja. Orang tua Q mampu untuk melanjutkan sekolahnya, hanya saja dia yang tidak mau untuk melanjutkan studinya. Karena harapan orang tua Q, terutama Ayah Q sangat berharap dia dapat melanjutkna pendidikan setinggi-tingginya, y.. selain karena dia anak sulung, dia juga laki-laki yang seyogyanya imam untuk keluarga dan ahli waris untuk adik-adiknya.(*Anak laki-laki dalam Islam itu merupakan ahli waris utama, bukan hanya dalam harta tetapi lebih kepada pengganti sang Ayah jika sudah tidak ada, seperti menikahkan adik perempuannya, dll.. Afwan jika pemahaman saya salah atau keliru atau kurang tepat, mohon diluruskan,, tafaddhol..*)
Singkat cerita, lepas dari SMP, abang Q pun mulai menapaki hidupnya sendiri, mencoba menjadi pribadi yang mandiri. Namun sayang, pergaulan disekitarnya membuat dia salah langkah dan hal itu membuat orang tua Q marah dan kesal. Akhirnya, orang tua Q memberi dia modal untuk berjualan kecil-kecilan, namun tidak bertahan lama. Pada akhirnya tepat usia 21 tahun dia memutuskan untuk menikah dengan seorang gadis pilihannya. Mau tidak mau orang tua Q pun bersedia melamarkan gadis pilihannya.
Q sebagai anak kedua pun selalu berpikir realistis untuk menjadi kebanggan keluarga. Q berusaha selalu mengedepankan pendidikan setinggi-tingginya selama Q mau dan mampu, walaupun orang tua Q tidak mampu. Karena bagi Q "Dimana ada niat, pastilah ada jalan". Hanya itu inspirasi yang menjadi semangat keseharian Q dalam mewujudkan mimpi-mimpi Q. "tidak ada yang tidak mungkin selama nyawa masih di badan dan masih mau berusaha", Insya Allah,, berbekal Yakin Usaha Sampai semua akan ada jalannya. Itulah Q...
Adik Q sendiri Ricky, hanya mampu menamatkan studinya sampai SMA. Q dan dia hanya selisih satu tahun saja. Dia sudah lulus 2 tahun yang lalu dari salah satu sekolah kejuruan yang ada di sekitar kabupaten tempat tinggal Q. Sama halnya seperti abang Q, orang tua Q pun berharap dia dapat melanjutkan sekolahnya, namun tidak ada kemauan darinya. Orang tua Q pun berpikir "dari pada dipaksa dan uang terbuang percuma,, y sudahlah harus mengikuti kemauan anak lagi". Dan akhirnya dia bekerja di salah satu perusahaan swasta tempat Ayah Q dulu bekerja. dan Alhamdulillah sampai sekarang dia masih bertahan disana.
Adik Q yang bungsu (paling kecil) sangat jauh usianya dari kami. Dia sekarang baru menginjak usia empat tahun. Kami sekeluarga tidak pernah menyangka kalau akan ada si kecil lagi di rumah Q. Q dan adik Q Ricky, tidak keberatan sama sekali ketika mendengar kalau Ibu Q sedang mengandung lagi di usia kami yang sudah terbilang dewasa. Justru malah sebaliknya, kami sangat senang sekali. Karena ketika kami sudah dewasa seperti ini yang sudah mulai berpikir tentang jalan terbaik kami, masih ada si kecil yang dapat menemani Ibu di rumah. Ya,, setidaknya untuk teman cerita Ibu di rumah lah. Karena Bapak tugas di Batam bersama Q yang sedang kuliah, adik Q Ricky sudah bekerja (tidak banyak waktu di rumah), seangkan abang Q sudah bersama keluarga kecilnya merantau di Tanah Karo (Kebun Kelapa/Asahan - Tanah Karo lebih kurang 4 jam ditempuh dengan kendaraan umum). Si bungsu sekarang sedang lucu-lucunya dan Alhamdulillah kebijakan-kebijakan selalu keluar dari setiap tingkahnya. Aktifitasnya sekarang hanya sekolah Play Group dan mengaji saja.
Y,, inilah Q bersama keluarga Q. Kesederhaan tak menjadi halangan untuk berpotensi dalam segala hal. Hidup bak air, biarkan mengalir dan selalu menjadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.
--Semoga bermanfaat--
Q sebagai anak kedua pun selalu berpikir realistis untuk menjadi kebanggan keluarga. Q berusaha selalu mengedepankan pendidikan setinggi-tingginya selama Q mau dan mampu, walaupun orang tua Q tidak mampu. Karena bagi Q "Dimana ada niat, pastilah ada jalan". Hanya itu inspirasi yang menjadi semangat keseharian Q dalam mewujudkan mimpi-mimpi Q. "tidak ada yang tidak mungkin selama nyawa masih di badan dan masih mau berusaha", Insya Allah,, berbekal Yakin Usaha Sampai semua akan ada jalannya. Itulah Q...
Adik Q sendiri Ricky, hanya mampu menamatkan studinya sampai SMA. Q dan dia hanya selisih satu tahun saja. Dia sudah lulus 2 tahun yang lalu dari salah satu sekolah kejuruan yang ada di sekitar kabupaten tempat tinggal Q. Sama halnya seperti abang Q, orang tua Q pun berharap dia dapat melanjutkan sekolahnya, namun tidak ada kemauan darinya. Orang tua Q pun berpikir "dari pada dipaksa dan uang terbuang percuma,, y sudahlah harus mengikuti kemauan anak lagi". Dan akhirnya dia bekerja di salah satu perusahaan swasta tempat Ayah Q dulu bekerja. dan Alhamdulillah sampai sekarang dia masih bertahan disana.
Adik Q yang bungsu (paling kecil) sangat jauh usianya dari kami. Dia sekarang baru menginjak usia empat tahun. Kami sekeluarga tidak pernah menyangka kalau akan ada si kecil lagi di rumah Q. Q dan adik Q Ricky, tidak keberatan sama sekali ketika mendengar kalau Ibu Q sedang mengandung lagi di usia kami yang sudah terbilang dewasa. Justru malah sebaliknya, kami sangat senang sekali. Karena ketika kami sudah dewasa seperti ini yang sudah mulai berpikir tentang jalan terbaik kami, masih ada si kecil yang dapat menemani Ibu di rumah. Ya,, setidaknya untuk teman cerita Ibu di rumah lah. Karena Bapak tugas di Batam bersama Q yang sedang kuliah, adik Q Ricky sudah bekerja (tidak banyak waktu di rumah), seangkan abang Q sudah bersama keluarga kecilnya merantau di Tanah Karo (Kebun Kelapa/Asahan - Tanah Karo lebih kurang 4 jam ditempuh dengan kendaraan umum). Si bungsu sekarang sedang lucu-lucunya dan Alhamdulillah kebijakan-kebijakan selalu keluar dari setiap tingkahnya. Aktifitasnya sekarang hanya sekolah Play Group dan mengaji saja.
Y,, inilah Q bersama keluarga Q. Kesederhaan tak menjadi halangan untuk berpotensi dalam segala hal. Hidup bak air, biarkan mengalir dan selalu menjadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.
--Semoga bermanfaat--
Langganan:
Komentar (Atom)


